Periskop.id - Danantara mematahkan ekspektasi pasar lewat penerbitan global bond perdananya. Yield yang dicapai jauh lebih rendah dari perkiraan awal banker, membuktikan kepercayaan investor terhadap Indonesia bukan sekadar retorika.

Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan pihaknya sempat mendapat sinyal dari banker bahwa yield obligasi berpotensi berada di atas 6%, bahkan mendekati 7%. Hal itu disebabkan kondisi pasar yang sedang tertekan saat roadshow berlangsung.

Advertisement

"Setelah book building yang tadinya kami perkirakan rate-nya di atas, mereka menyampaikan, banker kami itu menyampaikan di atas 6 bahkan 7, karena memang ada surat utang kita yieldnya itu kurang lebih di sekitar situ," ujar Rosan dalam keterangan pers di Ruang Sidang Kabinet, Senin (15/6/2026).

Namun kenyataannya berbeda. Rosan menjelaskan, tingginya minat investor membuat Danantara berhasil closing jauh di bawah proyeksi tersebut, yakni 5,35% untuk tenor 5 tahun dan 5,95% untuk tenor 10 tahun.

Ia menegaskan, yield yang kompetitif ini bukan kebetulan. Menurutnya, jika investor tidak benar-benar percaya, mereka akan meminta yield premium yang jauh lebih tinggi sebagai kompensasi risiko.

Rosan menambahkan, bila dibandingkan dengan obligasi Sovereign Wealth Fund (SWF) lain di dunia, yield Danantara dinilai relatif sama atau bahkan lebih rendah. Ini ia sebut sebagai cerminan kredibilitas lembaga yang baru berdiri sekitar 1,5 tahun tersebut.

Keberhasilan ini juga tercermin dari komposisi investornya. Rosan mengungkapkan, 52% pembeli obligasi tenor 10 tahun berasal dari Amerika Serikat, membalik pola historis penerbitan obligasi Indonesia yang biasanya didominasi investor Asia.

"Ini membuktikan bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia itu ada dan tinggi," tegasnya.

Sebagai konteks, Danantara menggelar roadshow ke sejumlah negara sejak 3 Juni 2026, menyambangi Hong Kong, Singapura, Boston, London, hingga New York. Roadshow ini dilakukan tak lama setelah Danantara meraih rating setara sovereign rating Indonesia dari Moody's, S&P, dan Fitch, semuanya di level investment grade.

Dari target penerbitan awal US$1 miliar, total book building yang masuk menembus US$4,6 miliar dari 122 investor lintas negara. Danantara akhirnya menaikkan ukuran penerbitan menjadi US$1,5 miliar, terbagi atas US$750 juta tenor 5 tahun dan US$750 juta tenor 10 tahun. Dana dijadwalkan masuk ke rekening Danantara pada 18 Juni 2026.

"Ini real, karena banyak yang menyampaikan tidak akan ada investasi yang mau percaya kepada kita, tapi ini real," pungkas Rosan.