Periskop.id - Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional empat dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, karena berbagai alasan.
"Selain karena tidak memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (Ipal), juga karena ada kasus keracunan," kata Ketua Satuan Tugas (Satgas) MBG Bangkalan Bambang Mustika di Bangkalan, Selasa (28/4).
Bambang menjelaskan, dapur MBG yang izin operasionalnya dicabut itu tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Galis, Tanah Merah dan Kecamatan Blega.
"Untuk pencabutan izin operasional yang di Kecamatan Galis dan Tanah Merah terkait Ipal, sedangkan yang terkait kasus keracunan, berada di Kecamatan Blega," tuturnya.
Bambang menjelaskan, kasus keracunan di Kecamatan Blega itu terjadi pada 20 April 2026, menimpa dua siswa dan guru di SMP Negeri. Peristiwa ini bermula ketika seorang guru yang bertugas mencicipi makanan, mengalami gejala seperti keringat dingin dan muntah-muntah.
Sementara itu, dua siswa yang mengonsumsi menu MBG pada pagi hari juga merasakan mual. Kondisi salah satu siswa, bahkan sempat memburuk, sehingga bersama gurunya langsung dilarikan ke puskesmas terdekat.
"Satgas bersama BGN langsung turun ke lapangan, melakukan penyelidikan dengan melakukan uji laboratorium menu MBG yang dikonsumsi guru dan siswa tersebut," jelasnya.
Hasilnya, sambung dia, makanan tersebut memang mengandung zat berbahaya, sehingga BGN langsung mengeluarkan rekomendasi penghentian operasi.
"Jadi, dari empat MBG yang ditutup sementara itu, tiga dapur karena tidak memiliki Ipal, sedangkan satu dapur lagi, karena terjadi kasus keracunan," katanya.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bangkalan menyasar 328.017 orang. Tersebar di 18 kecamatan dengan jumlah dapur MBG beroperasi sebanyak 112 unit dari 129 unit dapur yang ada di wilayah itu.
Makanan Tak Layak
Sejatinya, masalah MBG di Kabupaten Bangkalan ini bukan kali ini saja terjadi. Pertengahan Januari 2026 lalu, Satuan Tugas (Satgas) program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur menemukan adanya menu yang tidak layak dibagikan kepada para siswa.
"Saya sudah meminta koordinator wilayah untuk turun tangan menyelidiki kasus tersebut," kata Ketua Satgas MBG Bangkalan Bambang Budi Mustika.
Ia menjelaskan, temuan adanya menu MBG yang tidak layak itu, sesuai dengan laporan yang disampaikan masyarakat, serta rekaman video yang beredar di sejumlah platform media sosial. Bambang memperkirakan, harga pada makanan tersebut tidak sampai Rp10 ribu, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
"Kalau melibat dari gambar yang beredar, saya khawatir menu MBG yang tidak layak tersebut, tidak sampai Rp10 ribu," serunya.
Selain menginstruksikan koordinator wilayah, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan untuk melaporkan secepatnya, apabila ditemukan menu makanan yang tidak layak.
Sebelumnya, Satgas MBG Kabupaten Bangkalan juga menemukan adanya makanan yang berulat yang diterima siswa di salah satu lembaga pendidikan. "Kalau kasus yang pertama itu telah kami selesaikan, dan faktornya karena kurang hati-hati, karena ulat yang ada di menu MBG tersebut, berasal dari buah," jelasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar