Periskop.id - Fenomena belanja daring atau online shopping kini bukan lagi sekadar aktivitas pemenuhan kebutuhan, melainkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup digital yang sangat melekat.
Namun, di balik kemudahan transaksi melalui ponsel pintar, tersimpan sebuah pola perilaku yang cukup mengkhawatirkan di kalangan perempuan muda.
Sebuah studi mendalam yang diterbitkan dalam jurnal Psychology Research and Behavior Management pada tahun 2023 mengungkapkan bahwa lonjakan pembelian impulsif pada produk fesyen memiliki akar penyebab yang jauh lebih kompleks daripada sekadar masalah manajemen keuangan.
Media Sosial sebagai Pemicu Utama Kecemasan
Masalah utama dari perilaku belanja spontan ini ternyata berawal dari paparan media sosial yang masif. Platform digital tersebut secara tidak langsung menciptakan standar kecantikan yang spesifik dan sering kali tidak realistis melalui foto-foto yang telah disunting dengan sempurna.
Menurut penelitian tersebut, karena sering melihat standar kecantikan di media sosial, banyak perempuan muda akhirnya merasa cemas dengan penampilan tubuh mereka sendiri.
Kondisi ini memicu apa yang disebut sebagai kecemasan penampilan sosial, yaitu rasa takut dinilai kurang menarik atau dipandang negatif oleh orang lain. Rasa gelisah ini kemudian mempengaruhi cara mereka berbelanja secara radikal.
Saat seseorang merasa tidak percaya diri, kemampuan mereka untuk menahan diri atau melakukan kontrol diri akan menurun drastis. Akibatnya, mereka jauh lebih mudah tergoda untuk membeli pakaian secara spontan tanpa mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau tidak.
Perbandingan Antargender
Data dalam riset tersebut menunjukkan bahwa perempuan muda merupakan kelompok yang paling dominan dalam aktivitas pembelian impulsif daring, baik sebelum maupun selama masa pandemi.
Dibandingkan laki-laki, perempuan cenderung mengeluarkan lebih banyak uang untuk item fesyen yang sedang modis. Hal ini terjadi karena dua mekanisme psikologis utama.
Pertama, pembelian impulsif dianggap sebagai alat untuk meredakan emosi negatif. Membeli produk kecantikan seperti pakaian diketahui menjadi cara efektif bagi perempuan muda untuk mengatasi perasaan tidak nyaman terkait citra tubuh mereka.
Kedua, aktivitas belanja tersebut merupakan bentuk upaya peningkatan diri. Keinginan untuk meningkatkan daya tarik merupakan pemicu utama pembelian impulsif produk terkait penampilan pada perempuan.
Penelitian ini juga memberikan catatan khusus pada negara-negara Timur yang memiliki budaya kolektif. Di lingkungan tersebut, perempuan muda merasakan tekanan sosial yang jauh lebih besar untuk menyesuaikan diri dengan standar kecantikan sosial, sehingga mereka terdorong membeli produk peningkat penampilan secara impulsif.
Selain aspek psikologis, ditemukan pula bahwa perempuan ditemukan lebih mudah dipengaruhi oleh tren fesyen yang sedang berlangsung, sementara laki-laki biasanya lebih menitikberatkan pada reputasi sebuah merek dalam memilih pakaian.
Preferensi Berdasarkan Status Ekonomi dan Usia
Faktor lain yang sangat menentukan dalam studi ini adalah persepsi seseorang terhadap kondisi ekonominya. Penelitian ini menemukan fakta menarik bahwa tingkat rasa aman secara finansial dapat memperkuat atau justru mengurangi dampak kecemasan terhadap perilaku belanja.
Bagi perempuan yang merasa kondisi ekonominya cukup baik atau aman, dampak kecemasan penampilan ini tidak terlalu besar karena mereka cenderung masih bisa mengontrol diri.
Sebaliknya, bagi mereka yang merasa kondisi ekonominya terbatas, kecemasan soal penampilan justru membuat mereka lebih rentan belanja impulsif. Kondisi ini dinilai cukup berisiko karena mereka memaksakan pembelian secara finansial demi meredakan kecemasan sesaat.
Meskipun perempuan muda menjadi fokus utama, riset ini mencatat bahwa perempuan yang lebih tua pun tetap membeli pakaian untuk menjaga rasa percaya diri, gaya, dan individualitas mereka.
Perbedaannya hanya terletak pada prioritas, di mana kelompok usia yang lebih tua mulai lebih mengutamakan faktor kenyamanan.
Tinggalkan Komentar
Komentar