Periskop.id - Pernahkah Anda merasa bingung memilih pakaian di pagi hari, lalu akhirnya hanya mengambil celana jeans dan kaos longgar karena merasa sedang malas atau tidak bersemangat? 

Ternyata, pilihan tersebut bukan sekadar masalah praktis, melainkan cerminan mendalam dari kondisi psikologis Anda. 

Hubungan antara pakaian dan suasana hati ini dibedah secara tuntas dalam sebuah buku studi berjudul “Flex: Do Something Different” yang diterbitkan oleh University of Hertfordshire pada 2012.

Penelitian ini mengungkapkan fakta menarik bahwa pilihan pakaian perempuan sangat bergantung pada kondisi emosional mereka saat itu. Pakaian bukan lagi sekadar pelindung tubuh, melainkan bahasa visual yang menunjukkan apakah seseorang sedang berada di puncak kebahagiaan atau justru sedang terperosok dalam kesedihan.

Jeans Sering Jadi Ungkapan Rasa Sedih

Dalam studi tersebut, seratus perempuan dilibatkan untuk memberikan gambaran mengenai kebiasaan berpakaian mereka. 

Hasilnya cukup mengejutkan. Lebih dari setengah responden menjawab bahwa mereka lebih memilih mengenakan celana jeans ketika sedang merasa depresi. Sebaliknya, hanya sepertiga dari responden yang memilih mengenakan jeans ketika mereka sedang merasa bahagia.

Kaitan antara depresi dan penggunaan jeans dapat dipahami melalui sudut pandang psikologis. Celana jeans sering kali dianggap sebagai pilihan aman bagi mereka yang kehilangan minat pada penampilan. 

Karena potongannya terkadang kurang pas atau ukurannya tidak sesuai pada setiap orang, jeans bisa memberikan sinyal bahwa pemakainya sedang tidak terlalu peduli dengan impresi luar. 

Orang yang sedang mengalami depresi cenderung tidak ingin menjadi pusat perhatian atau menonjol di keramaian, sehingga jeans menjadi pilihan paling netral untuk bersembunyi.

Atasan Longgar vs Gaun Favorit

Selain celana, atasan yang dipilih juga menunjukkan perbedaan kontras yang sangat besar. Saat berada dalam suasana hati yang buruk, perempuan jauh lebih mungkin mengenakan atasan longgar. 

Data menunjukkan sebanyak 57% perempuan akan mengenakan atasan longgar ketika depresi, sementara hanya 2% yang akan mengenakannya ketika merasa bahagia.

Sebaliknya, saat merasa positif dan bahagia, perempuan menunjukkan kecenderungan untuk mengekspresikan diri lebih berani. 

Studi ini menemukan bahwa perempuan sepuluh kali lebih mungkin mengenakan gaun favorit saat merasa bahagia, dengan angka mencapai 62%, dibandingkan ketika depresi yang hanya menyentuh angka 6%. 

Pakaian yang diasosiasikan dengan kebahagiaan biasanya memiliki potongan yang rapi, menonjolkan bentuk tubuh, serta terbuat dari kain yang cerah dan indah.

Aksesori dan Sepatu sebagai Booster Kebahagiaan

Detail kecil seperti aksesori dan alas kaki ternyata juga memegang peranan penting. Penelitian ini menemukan bahwa penggunaan topi meningkat dua kali lipat saat perempuan merasa bahagia dibandingkan saat mereka merasa depresi. 

Bahkan, pilihan sepatu pun ikut berbicara. Lima kali lebih banyak perempuan mengenakan sepatu favorit mereka saat bahagia, yaitu sekitar 31%, sedangkan saat depresi angkanya anjlok ke 6%.

Temuan ini menunjukkan bahwa ketika seseorang merasa bahagia, mereka memiliki energi lebih untuk memikirkan detail penampilan, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sebaliknya, saat energi emosional sedang rendah, detail-detail ini sering kali diabaikan.

Satu poin paling penting lain dari penelitian University of Hertfordshire ini adalah sifat dua arah dari pakaian. Pakaian tidak hanya memengaruhi persepsi orang lain terhadap kita, tetapi juga memengaruhi suasana hati pemakainya secara internal. 

Banyak perempuan dalam studi ini merasa bahwa mereka sebenarnya bisa mengubah atau memperbaiki suasana hati mereka hanya dengan mengganti pakaian yang dikenakan.

Ini adalah sebuah kekuatan psikologis yang besar. Jika kita merasa sedih, memaksa diri untuk meninggalkan jeans dan mengenakan pakaian dengan potongan yang rapi atau warna yang cerah dapat memberikan stimulasi positif pada otak untuk merasa lebih percaya diri dan bahagia.

Studi ini mengingatkan kita bahwa apa yang kita gantung di lemari bukan sekadar kain, melainkan alat psikologis yang bisa kita gunakan untuk mengelola kesehatan mental kita sehari-hari.