periskop.id - Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Utara (Sumut) Rianda Purba menyebut dua wilayah di Sumatra Utara yang paling terdampak bencana banjir Sumatra.

“Wilayah yang paling kritis adalah Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Selatan, Kecamatan Batang Toru,” kata Rianda, dalam konferensi pers, Senin (1/12).

Rianda mengungkapkan, dua daerah tersebut terdampak paling parah karena banyak terjadi alih fungsi lahan.

Ia mencontohkan, pembangunan PLTA Batang Toru. Menurutnya, pembangunan itu memutus koridor habitat alami orangutan dan harimau serta merusak badan-badan sungai langsung. Pembangunan PLTA ini juga berdampak terhadap kerusakan lain.

“Bukan hanya daerah aliran sungainya yang menjadi daya dukung lingkungan untuk ekosistem sungai tersebut dan sumber air. Tapi juga mengganggu langsung merubah seenaknya dan bahkan merusak badan-badan sungai untuk PLTA Batang Toru tersebut,” tutur dia.

Selain itu, pertambangan emas di sebelah Sungai Batang Toru yang sudah mengalami kerusakan akibat aktivitas ilegal. Daerah-daerah sekitar itu juga memiliki status hukum yang sudah berubah menjadi non-hutan atau area penggunaan lain (APL).

“Karena area penggunaan lain dan itu punya pemegang hak atas tanah kemudian hutan-hutan alami tersebut yang status hukumnya non-hutan dijadikan objek kerja sama kemitraan sehingga masyarakat kemudian itu mengganti tutupan yang tadinya hutan alami menjadi tanaman ekaliptus. Ini kerjasama dengan PT Tobapak Lestari di wilayah hulu sungai Batang Toru tersebut,” ungkap dia.

Padahal, daerah tersebut secara besar berperan untuk menjadi sumber-sumber air dari sebuah sungai yang panjang di Sungai Batang Toru.

Bahkan, Walhi Sumut juga sudah memeriksa daerah tersebut menggunakan data dari Google Earth yang menunjukkan keparahannya selalu meningkat setiap tahun. Melalui data tersebut, argumen yang disampaikan oleh Walhi Sumut tidak dapat terbantahkan, termasuk dengan pemerintah.

“Lihat saja langsung dalam peta tersebut mana saja lahan-lahan baik yang baru dibuka atau masih terbuka ataupun dalam kurun waktu terakhir beberapa tahun terakhir itu ada perubahan-perubahan tutupan lahannya. Itu bisa dilihat langsung akses publik,” ujar dia.