periskop.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan fokus utama penanganan pascabencana di wilayah Sumatra adalah pemulihan layanan rumah sakit, mengingat perannya yang krusial dalam penyelamatan nyawa korban terdampak.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemulihan layanan kesehatan menjadi tahap pertama yang harus segera dilakukan karena bersifat kritikal dan life-saving.

“Tahap pertama adalah kita harus segera memulihkan layanan kesehatan di rumah sakit, karena ini layanan yang paling kritikal dan menyelamatkan nyawa. Banyak pasien yang harus segera dirawat agar kondisinya bisa kita selamatkan,” kata Budi saat jumpa pers di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Rabu (7/1).

Berdasarkan pendataan Kemenkes, sebanyak 87 rumah sakit terdampak bencana di sejumlah wilayah Sumatra. Dalam pekan pertama pascabencana, sebagian fasilitas kesehatan tersebut mulai kembali beroperasi, meski tidak seluruhnya dalam kondisi normal.

Dari jumlah tersebut, sembilan rumah sakit sempat berhenti total akibat kerusakan berat dan terendam banjir. Menindaklanjuti kondisi itu, Kemenkes membentuk Health Emergency Operations Center (HEOC) pada 1 Desember di tiga provinsi serta seluruh kabupaten dan kota terdampak untuk memetakan aset dan kondisi rumah sakit.

“Sembilan rumah sakit ini awalnya sama sekali tidak bisa beroperasi. Satu berada di Sumatera Utara, yakni RS di Tanjung Pura, Langkat, dan delapan lainnya di wilayah terdampak,” ujar Budi.

Melalui kerja sama lintas sektor dengan TNI, Polri, BNPB, dan pemerintah daerah, Kemenkes berhasil memulihkan operasional seluruh rumah sakit tersebut dalam waktu dua minggu. Meski demikian, sejumlah fasilitas masih belum berfungsi penuh karena dampak banjir, lumpur, serta kerusakan alat kesehatan.

“Tidak semuanya bisa langsung 100% beroperasi. Ada yang masih terendam banjir, tertutup lumpur, dan alat kesehatannya rusak,” jelasnya.

Namun demikian, Budi memastikan seluruh 87 rumah sakit di wilayah terdampak bencana kini telah kembali melayani pasien. Termasuk sembilan rumah sakit yang sebelumnya terendam banjir hingga setinggi pinggang dan mengalami kerusakan berat.

“Dalam dua minggu, seluruh rumah sakit sudah bisa mulai beroperasi kembali, meskipun bertahap. Yang terpenting, layanan kesehatan untuk masyarakat sudah berjalan,” pungkasnya.