Periskop.id - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menyambut seruan islah dari para kiai sepuh, usai pertemuan Forum Masyayikh yang digelar di Pondok Pesantren Ploso, Kediri. Ia menyebut, pertemuan para kiai sepuh tersebut dinilai sebagai bentuk perhatian mendalam terhadap kondisi jam’iyah dan upaya menjaga keutuhan Nahdlatul Ulama (NU), di tengah dinamika yang berkembang.

“Perhatian para kiai sepuh merupakan peneguhan penting bagi PBNU untuk terus menempatkan persatuan dan keteduhan umat sebagai prioritas,” ujar Gus Yahya, sapaan akrab Yahya Cholil Staquf, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (1/12). 

Gus Yahya juga mengungkapkan rasa hormat dan terima kasih yang tulus kepada para masyayikh yang memberikan arahan demi menjaga integritas dan maruah organisasi. Ia menegaskan menerima sepenuhnya seruan para kiai sepuh agar seluruh pihak menahan diri dan menghindari langkah atau pernyataan yang berpotensi menimbulkan perpecahan.

Sikap ketundukan tersebut, kata Gus Yahya, merupakan bentuk sam’an wa tha’atan atas bimbingan para masyayikh yang selama ini menjadi penopang utama perjalanan jam’iyah. Ia pun mendorong semua pihak terkait untuk segera menindaklanjuti dawuh para kiai dengan mengupayakan islah atau rekonsiliasi.

“Upaya tersebut harus dilakukan dalam semangat ukhuwah, kedewasaan, dan tanggung jawab bersama sebagai pengemban amanat Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama,” kata dia.

Gus Yahya menegaskan kebesaran organisasi tidak boleh dikalahkan oleh perbedaan pandangan. Arahan para masyayikh, katanya, menjadi tuntunan penting untuk menjaga ketenteraman umat dan kesinambungan khidmah NU dari struktur pusat hingga ke akar rumput.

“Kami bersyukur dan berterima kasih atas perhatian para kiai sepuh. Dengan penuh keikhlasan, saya tunduk pada dawuh para masyayikh. Menahan diri, menjaga suasana, dan mengupayakan islah,” tuturnya. 

PBNU juga mengimbau seluruh warga Nahdliyin agar tetap tenang, menjaga ukhuwah, serta tidak mudah terpengaruh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan.

Penyelesaian Konflik

Sebelumnya, Forum Sesepuh Nahdlatul Ulama mendorong adanya islah dalam penyelesaian konflik yang saat ini terjadi di jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU, sekaligus meminta agar pihak yang berkonflik menahan diri. Juru bicara Forum Sesepuh Nahdlatul Ulama K.H. Oing Abdul Muid Sohib mengatakan, para kiai sepuh telah mengadakan pertemuan membahas masalah yang terjadi di PBNU.

"Forum Sesepuh Nahdlatul Ulama menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi yang terjadi di PBNU saat ini dan semuanya berharap bisa segera terjadi islah," kata K.H. Oing Abdul Muid Sohib di Kediri, Minggu.

Gus Muid, sapaan akrabnya, mengungkapkan pertemuan tersebut diprakarsai dua tokoh penting, yakni K.H. Anwar Manshur (Pesantren Lirboyo Kediri) dan K.H. Nurul Huda Djazuli (Pesantren Al Falah Ploso, Kabupaten Kediri).

Selain prihatin dengan masalah di PBNU, forum tersebut juga menyerukan kepada seluruh pihak di PBNU yang sedang berkonflik agar bisa menahan diri.

"Forum Sesepuh NU menyerukan kepada pihak di PBNU yang sedang berkonflik agar bisa menahan diri, menghentikan pernyataan di media terlebih yang berkaitan dengan hal yang dapat membuka aib dan berpotensi merusak marwah jamiyah," tuturnya. 

Ia menambahkan, forum juga mengimbau agar PWNU (Pengurus wilayah Nahdlatul Ulama), PCNU (Pengurus cabang Nahdlatul Ulama), PCINU (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama), serta seluruh struktur NU di semua tingkatan untuk tetap fokus pada tugas.

Selain itu, mereka juga diminta untuk fokus dalam kegiatan serta program di tempatnya masing-masing, sekaligus tidak turut terlibat dalam konflik yang sedang terjadi di PBNU. Gus Muid juga mengajak warga NU untuk senantiasa menjaga ukhuwah nahdliyah serta menjunjung tinggi etika dalam bermedia sosial.

"Forum juga mengimbau warga NU agar memperbanyak takarub pada Allah SWT seraya memohon agar persoalan yang terjadi di PBNU segera memperoleh jalan keluar," katanya.

Gus Muid mengatakan, dalam forum ini para kiai sepuh juga akan menindaklanjuti hasil pertemuan sehingga islah bisa segera terealisasi.

"Yang paling penting, kiai sepuh mendorong utamanya islah. Dalam forum juga sepakat bahwa pertemuan ini adalah awal yang nanti akan ditindaklanjuti pertemuan selanjutnya. Dalam waktu dekat kami akan mulai menjalankan untuk bisa terwujudnya islah," kata Gus Muid.

Forum ini juga dihadiri para kiai dari berbagai pesantren dan wilayah yang hadir secara langsung maupun daring yakni K.H. Anwar Manshur (PP Lirboyo Kediri), K.H. Nurul Huda Djazuli (PP Al Falah Ploso Kediri), K.H. Ma’ruf Amin (via Zoom), dan K.H. Said Aqil Siroj (via Zoom).

Ada juga K.H. Abdullah Kafabihi Mahrus (PP Lirboyo Kediri), K.H. Abdul Hannan Ma’shum (Kwagean, Kediri), K.H. Kholil As’ad (Situbondo), K.H. Ubaidillah Shodaqoh (Semarang), K.H. dr. Umar Wahid (via Zoom) serta K.H. Abdulloh Ubab Maimoen (via Zoom).

Keputusan Syuriah

Sekadar mengingatkan, belum lama ini, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Miftachul Ahyar menegaskan, sejak 26 November 2025 pukul 00.45 WIB, KH Yahya Cholil Staquf tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, dan tidak lagi memiliki kewenangan maupun hak menggunakan atribut.

"Sejak saat itu, kepemimpinan PBNU sepenuhnya berada di tangan Rais Aam," kata Kiai Miftachul Ahyar saat konferensi pers di kantor Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Sabtu.

Ia juga menegaskan keputusan Syuriah PBNU ini bersifat final, sehingga penggunaan atribut atau pengambilan keputusan atas nama Ketua Umum tidak lagi memiliki legitimasi.

Rais Aam Kiai Miftachul Ahyar juga menegaskan, jika risalah Rapat Harian Syuriah PBNU telah disusun berdasarkan data dan kondisi riil.

“Tidak ada motif lain di luar yang tertulis dalam risalah rapat. Semua sesuai fakta,” ucapnya.

Selanjutnya, kata Rais Aam, untuk memastikan roda organisasi berjalan normal, PBNU akan segera menggelar Rapat Pleno atau Muktamar dalam waktu dekat. Pihaknya menginginkan, transisi kepemimpinan PBNU berjalan tertib sesuai aturan jam'iyah.

Tak hanya itu, Kiai Miftach, sapaan akrabnya, memberikan perhatian khusus terhadap dinamika opini publik dan informasi yang beredar di media arus utama maupun media sosial.

“Untuk mendapatkan kesahihan informasi, akan dibentuk Tim Pencari Fakta yang bekerja secara utuh dan mendalam,” tuturnya.

Oleh karena itu, ia menunjuk Wakil Rais Aam Kiai Anwar Iskandar dan Kiai Afifuddin Muhajir sebagai pengarah Tim Pencari Fakta (TPF). Bahkan, agar TPF dapat bekerja optimal, Rais Aam menegaskan bahwa implementasi Digdaya Persuratan Tingkat PBNU ditangguhkan sampai proses investigasi selesai.

Sementara itu, implementasi di tingkat PWNU dan PCNU tetap berjalan normal, sehingga ia mengingat kembali seluruh warga NU tentang nilai-nilai Khittah Nahdlatul Ulama.

“Semua pihak harus mengedepankan kepentingan bersama, menjaga akhlak yang mulia, dan menjunjung tinggi kejujuran dalam berpikir, bersikap, dan bertindak,” ujarnya.

Namun, menurut Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU Najib Azca di Jakarta, Minggu, pemecatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf dinilai premature. Pasalnya, audit keuangan PBNU belum rampung serta belum menghasilkan laporan apapun yang bisa dijadikan dasar keputusan.

“Audit belum selesai, tim pencari fakta baru bergerak setelah keputusan diumumkan. Bagaimana mungkin keputusan strategis diambil sebelum fakta lengkap tersedia? Prinsip organisasi yang tertib harus dijunjung tinggi,” ujarnya.