periksop.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Senin, 1 Desember 2025, naik 12 poin ke level Rp16.663 per dolar AS setelah sempat terapresiasi 15 poin dari penutupan sebelumnya di Rp16.675 per dolar AS. Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan, penguatan ini dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp16.630–Rp16.670,” ujar Ibrahim, Senin (1/12).

Dari sisi global, dolar AS melemah karena investor bersiap menghadapi bulan krusial yang berpotensi menjadi momen pemangkasan suku bunga terakhir The Federal Reserve tahun ini, serta menanti pengganti Ketua Jerome Powell yang dipandang dovish. Pasar saat ini memperkirakan 87% peluang The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pekan depan, menurut perangkat CME FedWatch. 

Ekspektasi pelonggaran The Fed, ditambah munculnya nama Kevin Hassett sebagai kandidat terdepan Ketua The Fed berikutnya, menekan dolar yang mencatatkan minggu terburuknya dalam empat bulan. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut Presiden Donald Trump kemungkinan besar akan mengumumkan pilihannya sebelum Natal. Ibrahim menekankan bahwa sentimen global ini menjadi salah satu faktor penguatan rupiah hari ini.

“Perubahan tajam ekspektasi pelonggaran The Fed, ditambah laporan kandidat pengganti Ketua The Fed, menekan dolar AS dan menjadi salah satu faktor penguatan rupiah hari ini. Selain itu, fokus pasar pada data ekonomi AS seperti PMI Manufaktur ISM, sektor jasa, produksi industri, dan ketenagakerjaan juga memberi tekanan pada pergerakan mata uang,” kata dia.

Kondisi domestik pun mendukung penguatan rupiah. BPS melaporkan neraca perdagangan Indonesia Oktober 2025 mencatat surplus US$2,39 miliar, memperpanjang tren surplus selama 66 bulan berturut-turut. Ibrahim menjelaskan, surplus ini terutama didorong oleh komoditas nonmigas seperti lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Selain itu, sektor manufaktur Indonesia tetap menunjukkan kinerja positif. PMI manufaktur November 2025 naik ke level 53,3 dari 51,2 pada Oktober, menandakan ekspansi selama empat bulan berturut-turut setelah kontraksi pada April–Juli 2025.

“Ekspansi manufaktur didorong oleh kenaikan volume output dan pertumbuhan pesanan baru tercepat sejak Agustus 2023. Perbaikan permintaan terutama dari pasar domestik juga memacu meningkatnya kebutuhan tenaga kerja dan aktivitas pembelian, meski pesanan ekspor baru tercatat menurun cukup signifikan,” ulas Ibrahim.

Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, rupiah diproyeksikan tetap fluktuatif namun cenderung menguat dalam beberapa hari ke depan.