periskop.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan serius terkait kondisi tanah di berbagai wilayah Indonesia yang kini mencapai titik jenuh air (saturated), sehingga potensi bencana longsor tetap tinggi meskipun curah hujan yang turun hanya berintensitas sedang.
“Maka kondisi tanah atau lahan di lereng-lereng itu dalam kondisi yang mendekati jenuh atau saturated. Sehingga dengan hujan yang sedang saja itu bisa membuat pergerakan dari masa tanah atau terjadinya longsor,” kata Kepala BMKG Teguh Faisal Fathani dalam Rapat Koordinasi Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi Basah secara daring, Jakarta, Senin (29/12).
Teguh menjelaskan situasi saat ini sangat berbeda dibandingkan awal musim hujan pada Oktober atau November lalu. Kala itu, kondisi tanah masih relatif kering dan mampu menyerap limpahan air hujan dalam jumlah besar.
Namun, setelah diguyur hujan terus-menerus selama dua bulan terakhir, pori-pori tanah kini sudah terisi penuh oleh air. Akibatnya, daya ikat tanah melemah drastis dan menjadikannya sangat labil terhadap guncangan atau tambahan air sedikit saja.
Kondisi kritis ini diperparah oleh dampak Siklon Tropis Senyar yang sempat melanda pada akhir November lalu. Fenomena tersebut menumpahkan curah hujan setara satu bulan hanya dalam waktu satu hari, yang mempercepat proses kejenuhan tanah di wilayah terdampak.
Tak hanya ancaman longsor, fenomena tanah jenuh juga berdampak pada pendangkalan sungai. Material tanah atau sedimen yang terbawa air hujan masuk ke badan sungai, mengurangi kapasitas tampung air secara signifikan.
“Jika normalisasi itu tidak dilakukan secepatnya, maka tampang basah sungai atau riverway perimeter itu akan berkurang. Sehingga dengan hujan sedang seperti terjadi di Pidie Jaya, itu sudah airnya meluap,” jelas Teguh memberikan contoh kasus.
BMKG meminta pemerintah daerah dan masyarakat tidak tertipu dengan intensitas hujan yang terlihat biasa saja. Kewaspadaan harus ditingkatkan dua kali lipat, terutama bagi warga yang bermukim di bawah lereng bukit atau bantaran sungai.
Instruksi khusus juga diberikan kepada jajaran BMKG di daerah. Mereka diminta tidak sekadar merilis data peringatan dini, tetapi wajib berkoordinasi langsung dengan BPBD dan tim SAR untuk memitigasi risiko di lapangan.
Peringatan ini menjadi alarm penting menjelang puncak musim hujan Januari nanti. Langkah antisipasi dan evakuasi mandiri saat hujan turun lebih dari satu jam menjadi kunci keselamatan di tengah kondisi tanah yang kritis ini.
Tinggalkan Komentar
Komentar