periskop.id - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, empat ribu relawan kesehatan telah dikerahkan untuk memperkuat layanan medis di wilayah terdampak bencana di Sumatera. 

Ribuan relawan disiagakan secara bergilir untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan, terutama di posko-posko pengungsian. Mereka berasal dari berbagai institusi pemerintah, aparat keamanan, rumah sakit, perguruan tinggi, hingga organisasi profesi dan lembaga kemanusiaan.

“Kita sudah mengirim sekitar empat ribu relawan kesehatan dari berbagai institusi, mulai dari pemerintah, TNI, Polri, Kementerian Kesehatan, rumah sakit Kemenkes, perguruan tinggi, hingga organisasi profesi,” ujar Budi saat menghadiri jumpa pers di Gedung BNPB, Jakarta, Rabu (7/1).

Relawan juga datang dari sejumlah fakultas kedokteran dan institusi pendidikan kesehatan, di antaranya Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Hasanuddin (Unhas). Selain itu, berbagai organisasi profesi turut terlibat, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), serta Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam.

Dukungan juga diberikan oleh berbagai organisasi non pemerintah dan lembaga kemanusiaan, baik nasional maupun internasional. Sejumlah lembaga yang terlibat antara lain Disaster Recovery Center, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Médecins Sans Frontières (MSF) atau Doctors Without Borders, Palang Merah Indonesia (PMI), serta Red Cross.

Menurut Budi, ribuan relawan tersebut ditempatkan secara bergilir dengan sistem rotasi setiap dua hingga tiga minggu. Dengan skema tersebut, setiap saat terdapat sekitar 700 hingga 900 relawan kesehatan yang aktif memberikan layanan di lapangan.

“Relawan ini kita rotasi supaya tetap ada tenaga yang segar dan siap bekerja. Setiap saat ada sekitar 700 sampai 900 relawan yang bertugas, terutama untuk melayani kesehatan di posko-posko pengungsian,” jelasnya.

Pengerahan relawan dilakukan untuk menutup kekurangan tenaga kesehatan di daerah terdampak, mengingat banyak tenaga medis lokal juga menjadi korban bencana dan harus mengurus keluarga serta tempat tinggal mereka sendiri.