periskop.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan penanganan pascabencana tidak hanya berfokus pada pemulihan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan jiwa para korban, khususnya anak-anak yang mengalami trauma akibat bencana.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, dukungan kesehatan mental menjadi bagian penting dalam proses pemulihan masyarakat terdampak, mengingat banyak korban mengalami tekanan psikologis, kehilangan anggota keluarga, hingga trauma mendalam.

“Yang kita bereskan bukan hanya kesehatan fisik, tapi juga kesehatan jiwa. Ini penting sekali,” kata Budi saat jumpa pers di Graha BNPB, Rabu, (7/1).

Budi mencontohkan peran relawan kesehatan jiwa yang diterjunkan ke lokasi bencana, salah satunya relawan dari Rumah Sakit Hasanuddin, Makassar, yang menggunakan pendekatan kreatif untuk menghibur anak-anak di pengungsian melalui permainan dan boneka.

Upaya tersebut bahkan mendapat perhatian dari Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Bima Arya saat meninjau langsung lokasi terdampak. Dalam kunjungan terbarunya, Bima Arya turut membawa boneka-boneka untuk menghibur anak-anak pengungsi.

“Anak-anak ini senang sekali. Mereka bisa tertawa, bisa terhibur. Itu bagian dari proses penyembuhan,” ujar Budi.

Menurut Budi, tidak semua persoalan kesehatan pascabencana bersifat fisik. Banyak korban, terutama anak-anak, mengalami gangguan psikologis akibat kehilangan orang tua, tempat tinggal, dan rasa aman.

“Tidak semuanya masalah fisik. Ada yang secara mental mengalami trauma, kehilangan ibu bapaknya. Itu juga harus kita tangani dengan sebaik-baiknya,” katanya.

Untuk itu, Kemenkes secara rutin mengerahkan tim kesehatan jiwa ke wilayah terdampak. Dalam setiap gelombang penugasan, sekitar 30 hingga 35 psikolog klinis dikirim untuk memberikan layanan pendampingan psikososial, termasuk terapi bermain, bercerita, dan konseling bagi korban bencana.

Psikolog-psikolog tersebut bertugas di posko pengungsian, puskesmas, serta lokasi-lokasi yang menjadi pusat pengungsian warga, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia dan kondisi korban.

Di akhir keterangannya, Budi menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan dan pihak yang telah terlibat dalam penanganan bencana. Ia juga membuka peluang bagi berbagai elemen masyarakat, termasuk insan pers, untuk turut berkontribusi sebagai relawan.

“Kami masih membutuhkan dukungan. Siapa tahu teman-teman wartawan juga mau jadi relawan, bisa daftar ke Kemenkes dan membantu saudara-saudara kita di sana,” pungkasnya.