periskop.id – Anggota Komisi VII DPR RI Andika Satya Wasisto mendesak manajemen Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI untuk menjadikan momentum Piala Dunia 2026 sebagai titik balik mengubah citra lembaga yang selama ini masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat sebagai televisi kuno.

“Saya harap tentunya program-program yang ada ini bisa membuat citra TVRI yang di mana hari ini masyarakat melihat sebagai TV kuno mungkin ya. Ini nanti perlahan bisa bergeser,” ujar Andika dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung Parlemen, Jakarta, Jumat (30/1).

Politisi Partai Golkar ini menilai penunjukan TVRI sebagai pemegang hak siar resmi merupakan kesempatan emas. Namun, ia mengingatkan tantangan berat dalam merebut atensi publik yang sudah terbiasa dengan tayangan modern.

Kritik tajam juga datang dari Anggota Komisi VII Evita Nursanty. Ia mengaku miris membaca komentar netizen di media sosial saat pengumuman TVRI memegang hak siar Piala Dunia, yang mayoritas bernada pesimis.

“Komennya enggak enak banget didengarnya. TV jadul, belum percaya rakyat gitu loh Pak. Buktikan kepada rakyat TVRI bisa,” tegas Evita menantang jajaran direksi.

Tantangan kian berat mengingat pola konsumsi media generasi muda saat ini telah berubah drastis. Anggota Komisi VII Dinda Lorenza menyoroti perilaku Gen Z yang lebih gemar menonton potongan video pendek ketimbang siaran televisi konvensional berdurasi panjang.

“Ini kan banyak sekali audiensi anak-anak muda yang mengonsumsi konten-konten melalui media digital. Kalau misalnya memakai pada pola yang lama, apa ini TV mereka-mereka tidak mau menonton lagi nih,” ungkap Dinda.

Pesinetron yang kini menjadi legislator ini khawatir TVRI akan ditinggalkan jika tidak berinovasi. Anak muda zaman sekarang cenderung mencari hiburan yang instan dan mudah diakses melalui gawai.

“Karena mereka bisanya nontonnya di klip saja cukup, akan ditinggalkan takutnya TVRI. Inovasi apa yang baru, yang benar-benar baru untuk disiapkan dalam Piala Dunia 2026 ini?” tanyanya.

Senada dengan Dinda, Anggota Komisi VII Yoyok Riyo Sudibyo juga menyoroti kalahnya pamor lembaga penyiaran negara dibandingkan konten kreator mandiri. Ia meminta TVRI lebih agresif melibatkan anak muda.

“Kalau di dalam negeri saja masih terus kalah viral, mau ngomong apa? Libatkan anak-anak muda. Terlalu banyak yang kreatif Pak, kalau enggak mau tenggelam dan makin habis,” cetus Yoyok.

Ia menyarankan agar TVRI tidak ragu menggandeng influencer atau tokoh muda yang memiliki basis massa besar. Kolaborasi ini dinilai efektif untuk mendongkrak popularitas siaran di kalangan milenial.

Menjawab keresahan tersebut, Direktur Utama TVRI Iman Brotoseno menyadari adanya pergeseran perilaku penonton. Meski terikat aturan FIFA yang melarang siaran langsung di YouTube, pihaknya menyiapkan strategi konten digital.

“Kalau klip-klip ya paling hanya highlight aja ada highlight, gol-gol, kemudian misalnya hanya 2 menit maksimal,” jelas Iman mengenai batasan konten di media sosial.

Manajemen TVRI berkomitmen menjawab keraguan publik dengan kualitas siaran yang mumpuni. Momentum pesta bola dunia ini dipertaruhkan untuk membuktikan bahwa stasiun televisi tertua di Indonesia ini masih relevan dan mampu bersaing.