Periskop.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menegaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah bersiap untuk menghadapi potensi banjir kiriman. Hal ini menyusul status Bendung Katulampa yang berada di level Siaga 3 sejak Kamis (29/1) malam.
“Katulampa dari kemarin, 15 jam yang lalu, sudah Siaga 3. Kami di Jakarta sudah mempersiapkan diri untuk itu,” kata Pramono saat dijumpai di Kawasan Rorotan, Jakarta Utara, Jumat (30/1).
Dia menjelaskan kenaikan muka air juga terjadi di Pintu Air Manggarai. Untuk mengurangi tekanan air di sepanjang Sungai Ciliwung, Pemprov DKI Jakarta membuka sejumlah aliran air di kawasan yang selama ini belum tersentuh.
“Beberapa daerah yang selama ini tidak tersentuh harus dibuka aliran airnya supaya air bisa turun ke laut. Itu sudah dilakukan sejak sekitar dua jam yang lalu,” jelas Pramono.
Dia pun berharap langkah tersebut dapat mengurangi debit air Sungai Ciliwung yang saat ini mengalami kenaikan. Namun, dia mengakui kondisi pasang air laut turut memengaruhi kecepatan aliran air menuju laut.
“Sekarang ini sedang pasang naik. Kalau pasang turun, saya yakin airnya bisa segera terdorong ke laut,” ujar Pramono.
Menurut dia, secara infrastruktur, pengendalian banjir di Sungai Ciliwung sebenarnya sudah cukup memadai. Termasuk kondisi pintu-pintu air yang dinilai berfungsi dengan baik.
“Untuk Ciliwung, fasilitas aliran sungainya sudah sangat baik, termasuk pintu-pintunya. Hanya saja, permukaan air laut relatif masih tinggi,” ungkap Pramono.
Daerah Aliran Ciliwung
Di sejumlah daerah yang dilintasi Ciliwung, luapan Sungai Ciliwung sudah mulai berdampak. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebutkan banjir yang melanda Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, disebabkan kenaikan debit air Sungai Ciliwung.
"Untuk banjir ini, disebabkan karena kenaikan debit air Ciliwung pada Bendung Katulampa yang berstatus Siaga 3 dan Pos Pantau Depok juga di Siaga 3, serta adanya limpasan air Kali Ciliwung," kata PIC Kelurahan Pejaten Timur BPBD DKI Jakarta Taufik kepada wartawan di Jakarta, Jumat.
Dia mengatakan banjir melanda empat wilayah rukun warga (RW), yakni RW 5, RW 6, RW 7, dan RW 8. Sementara di Jalan Masjid Al-Makmuriyah, genangan terjadi di RW 7 dan RW 8.
Menurut dia, kenaikan muka air mulai terjadi sejak pukul 20.00 WIB dengan ketinggian awal sekitar 40 sentimeter (cm). Air kemudian terus meningkat hingga mencapai titik tertinggi pada pukul 06.00 WIB.
“Untuk paling tinggi di Jalan Masjid Al-Makmuriyah itu mencapai 320 sentimeter, tepatnya di RT 17/RW 07, RT 16/RW 07, dan RT 5/RW 08,” ujar Taufik.
Saat ketinggian air mulai meningkat, kata dia, petugas telah mengimbau warga untuk melakukan evakuasi secara mandiri ke tempat yang lebih aman. Warga kebanyakan memilih untuk mengungsi ke rumah kerabat atau keluarga yang berada di lokasi yang lebih tinggi.
“Untuk pengungsi, Alhamdulillah, warga mengungsi ke tempat saudara yang lebih aman,” tutu rya.
Terkait upaya penanganan banjir, BPBD DKI Jakarta melakukan pemasangan tali sebagai jalur evakuasi untuk membantu warga yang membutuhkan evakuasi. Sampai dengan saat ini, tidak terdapat hambatan berarti dalam proses evakuasi tersebut.
Di sisi lain, terkait penggunaan pompa, Taufik mengatakan BPBD belum melakukan pengerahan pompa karena masih menunggu air surut. Pompa baru akan digunakan saat proses pembersihan lumpur.
“Pengerahan pompa mungkin nanti saat pembersihan lumpur, ketika air sudah surut semua,” ungkap Taufik.
Dia menambahkan kawasan permukiman yang terdampak banjir tersebut memang tidak memiliki pembatas antara sungai dan rumah warga, sehingga luapan air dengan mudah masuk ke permukiman.
Hal yang sama terjadi di pemukiman warga di Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur. Wilayah yang terlimpas aliran Ciliwung tersebut, terendam banjir dengan ketinggian mencapai dua meter setelah sebelumnya sempat surut.
"Iya, naik lagi banjirnya, sebelumnya sudah surut kemarin, tapi karena luapan, terus hujan lagi, jadi awet," kata salah satu warga Bidara Cina yang bernama Ekel (31) di Jakarta, Jumat.
Banjir yang melanda kawasan tersebut sejak Kamis (29/1) malam sempat surut. Namun saat ini, banjir kembali melanda dengan ketinggian mulai dari 50 sentimeter (cm) hingga dua meter lebih.
"Ketinggian air di sini paling tinggi 260 sentimeter, kalau terendah 50 sentimeter perkiraan," ujar Ekel.
Air luapan Kali Ciliwung kembali memasuki rumah warga. Sejumlah petugas, baik dari TNI/Polri, pemadam kebakaran alias Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Keselamatan (Gulkarmat) Jakarta Timur bahu-membahu membantu evakuasi warga.
"Warga tadi sudah ada yang dievakuasi pakai perahu karet," ucap Ekel.
Tinggalkan Komentar
Komentar