periskop.id – Anggota Komisi VII DPR RI Rahmawati menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait kondisi infrastruktur penyiaran di daerah pemilihannya yang masih mengalami blank spot atau zona sinyal kritis, sehingga berpotensi memicu kemarahan warga saat gelaran Piala Dunia 2026 nanti.

“Jangan sampai saya ngomong nanti di tempat sinyal kritis ayo tanggal sekian kita nonton bersama TVRI. Tiba-tiba blank spot di situ. Bisa saya didemo nanti Pak,” tegas Rahmawati dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung Parlemen, Jakarta, Jumat (30/1).

Kekhawatiran legislator asal Kalimantan Utara ini bukan tanpa alasan. Ia menceritakan pengalaman masa lalu di mana fanatisme sepak bola bisa memicu tindakan anarkis jika fasilitas penyiaran tidak memadai.

“Terutama Pak, ini ada pengalaman waktu saya kecil, di daerah NTB itu Pak kalau ada lagi pertandingan bola, tiba-tiba listrik mati, PLN bisa dibakar Pak. Coba bayangkan,” kenang Rahmawati mengingatkan potensi kerawanan sosial.

Oleh karena itu, ia mendesak TVRI untuk jujur mengenai peta jangkauan siaran. Transparansi data sangat diperlukan agar anggota dewan tidak memberikan janji palsu kepada konstituennya di daerah.

“Tolong jelaskan di mana daerah blank spot yang ada, biar saya tidak asal ngomong,” pintanya.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Rusda Mahmud, anggota Fraksi Demokrat dari Sulawesi Tenggara. Ia membeberkan fakta miris di mana bangunan transmisi sudah berdiri namun isinya kosong melompong.

“Sementara satuan transmisi Sulawesi Tenggara yang belum memiliki kesiapan dan menjadi perhatian yaitu 4 lokasi satuan transmisi yang siap bangunannya tetapi belum memiliki alat Pak,” ungkap Rusda merinci data teknis di dapilnya.

Kondisi infrastruktur yang tidak layak juga ditemukan di Bengkulu. Anggota Komisi VII Erna Sari Dewi menyoroti banyaknya peralatan vital yang tidak tersedia di stasiun transmisi daerah.

“Contoh saja ini, di Bengkulu di dapil saya, salah satunya video mixer nggak punya, Starlink nggak punya, kemudian juga video wireless solton 5G nggak punya,” beber Erna.

Erna mempertanyakan bagaimana publik bisa menikmati tayangan kelas dunia jika perangkat pendukungnya sangat minim. Menurutnya, kesiapan teknis di daerah adalah kunci kesuksesan siaran ini.

“Bagaimana ini publik bisa menikmati ini tontonan yang menarik, dengan puas nonton Piala Dunia? Kalau kemudian kesiapan peralatan kita secara teknis belum siap di bawah,” tanyanya kritis.

Menanggapi cecaran para legislator, Direktur Utama TVRI Iman Brotoseno mengakui adanya tantangan tersebut. Ia memastikan pihaknya telah menyiapkan strategi mitigasi jangka pendek, salah satunya dengan menyewa alat.

“Kami sudah memetakan lokasi-lokasi mana yang blank spot. Yaitu dengan mekanisme untuk memastikan pemancar yang ada, yang tidak ada untuk aktif ya, baik itu kita melalui proses sewa pemancar sementara dulu,” jawab Iman.

Selain sewa, TVRI juga menggandeng kepala daerah. Beberapa bupati disebut bersedia memfasilitasi infrastruktur demi warganya bisa menonton bola.

“Bahkan ada bupati yang mau menanggung juga gitu, karena itu buat masyarakatnya gitu, akan menyewakan pemancarnya buat masyarakat,” pungkas Iman.