Periskop.id - Sejarah awal manusia modern kini harus ditulis ulang. Melansir dari Good News Network, penemuan stylized handprints atau cap tangan bergaya di sebuah gua batu kapur di Indonesia telah resmi memecahkan rekor nasional sekaligus menjadi contoh seni cadas tertua yang diketahui di dunia saat ini. Temuan luar biasa ini diperkirakan berusia setidaknya 67.800 tahun.
Temuan ini bukan sekadar coretan di dinding gua, melainkan bukti langsung yang sangat kuat bahwa manusia telah melakukan penyeberangan laut secara sengaja selama hampir 70.000 tahun.
Hal ini terjadi saat gelombang migrasi manusia dari benua Asia bergerak melintasi kawasan Australasia menuju Australia dan wilayah sekitarnya.
Adhi Agus Oktaviana, peneliti di Pusat Riset Arkeometri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memaparkan perbandingan usia penemuan ini dengan temuan-temuan besar lainnya.
Usia minimum seni cadas di Sulawesi ini tercatat 16.600 tahun lebih tua dibandingkan temuan seni cadas sebelumnya di Pulau Muna yang dilaporkan pada tahun 2024.
Lebih mengejutkan lagi, karya seni ini menggeser dominasi Eropa. Cap tangan ini 1.100 tahun lebih tua dibandingkan cap tangan dari Spanyol yang sebelumnya dikaitkan dengan Neanderthal dan lama dianggap sebagai seni gua tertua di dunia.
Selain itu, temuan ini juga 22.200 tahun lebih tua dibandingkan lukisan babi kutil Sulawesi yang ditemukan pada tahun 2021 di pulau yang sama.
Secara statistik, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, tiga dari empat karya seni gua tertua yang pernah ditemukan di Bumi berasal dari satu pulau kecil di lepas Sulawesi, Indonesia.
Oktaviana menjelaskan bahwa ketepatan penentuan usia ini didukung oleh teknologi mutakhir. Tim peneliti menerapkan teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA-U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua tersebut.
Metode laser ini mampu menghasilkan perkiraan waktu paling awal pembuatan cap tangan dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.
Penemuan ini mengangkat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat terpenting dalam sejarah awal seni simbolik dan eksplorasi laut manusia modern di dunia. Kawasan Wallacea, daratan tenggelam yang kini muncul sebagai kawasan Indo-Pasifik, terbukti bukan sekadar jalur lintas menuju Australia, melainkan habitat utama bagi manusia modern awal.
Temuan ini memperkuat model kronologi panjang yang menyatakan bahwa manusia telah mencapai daratan Sahul (Australia hingga Papua) setidaknya 65.000 tahun lalu.
“Besarnya kemungkinan bahwa para pembuat lukisan ini merupakan bagian dari populasi yang kemudian menyebar lebih jauh ke timur dan akhirnya mencapai Australia,” ujar Oktaviana.
Ia menambahkan bahwa penemuan ini jadi bukti dari keberadaan manusia modern pertama di Nusantara.
“Penelitian ini memberikan bukti langsung tertua keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul, yang melibatkan eksplorasi laut antara Kalimantan (Borneo) dan Papua yang hingga kini relatif belum banyak diteliti secara arkeologis,” jelasnya.
Makna Simbolik
Profesor Adam Brumm dari Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE), Griffith University, menyoroti sisi estetika dan simbolik dari temuan ini.
Cap tangan pada seni cadas di Pulau Muna memiliki ciri unik secara global dengan modifikasi yang menyempitkan bentuk jari hingga menyerupai cakar.
Hal ini mencerminkan ekspresi simbolik yang sudah matang pada masa itu. Meskipun makna simboliknya masih bersifat spekulatif, Brumm memberikan tafsirannya:
“Namun, seni ini bisa melambangkan gagasan bahwa manusia dan hewan memiliki hubungan yang sangat dekat. Hal ini sudah terlihat dalam lukisan-lukisan paling awal di Sulawesi, termasuk setidaknya satu adegan yang kami tafsirkan sebagai representasi makhluk setengah manusia dan setengah hewan,” jelasnya.
Munculnya situs-situs seni cadas era Pleistosen di kawasan karst Sulawesi membawa tanggung jawab besar bagi pemerintah dan masyarakat. Warisan budaya ini bersifat tak tergantikan dan sangat rentan terhadap kerusakan.
Oleh karena itu, para peneliti menyerukan agar perlindungan kawasan karst yang menyimpan situs seni cadas kuno dijadikan bagian integral dari kebijakan tata ruang dan pengelolaan sumber daya alam.
Kelestarian gua-gua batu kapur ini adalah kunci untuk menjaga bukti sejarah peradaban manusia modern awal di Indonesia.
Tinggalkan Komentar
Komentar