Periskop.id - Akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Muhammad Yamin menilai, konflik di Timur Tengah yang terjadi saat ini, menjadi ujian serius bagi ketahanan energi Indonesia. Terlebih, Indonesai dalam ketergantungan tinggi terhadap impor minyak dan volatilitas harga energi global.
"Konflik di Timur Tengah bukan hanya persoalan geopolitik regional, tetapi langsung menguji ketahanan energi Indonesia karena struktur impor kita masih sangat besar," kata Dosen Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsoed itu di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (3/3).
Ia mengatakan, eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memicu gangguan distribusi energi global. Terutama jika berdampak pada jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Menurut dia, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut hampir pasti mendorong lonjakan harga minyak mentah. Bagi Indonesia yang masih mengimpor sekitar 50% kebutuhan minyaknya, kata dia, kondisi tersebut akan berdampak langsung pada anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
"Setiap kenaikan harga minyak dunia di atas asumsi APBN akan menambah beban subsidi dan kompensasi energi. Pemerintah berada dalam posisi dilematis antara menjaga stabilitas harga dalam negeri atau mengendalikan defisit fiskal," katanya.
Selain tekanan fiskal, kata dia, lonjakan harga energi juga berpotensi memicu inflasi karena biaya transportasi dan logistik meningkat. Menurut dia, dampak lanjutannya berupa kenaikan harga pangan dan kebutuhan pokok yang dapat menggerus daya beli masyarakat.
Ia mengatakan gejolak energi global juga kerap diikuti tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik, karena investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman saat ketidakpastian meningkat.
Ia menilai situasi tersebut harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi dan memperkuat diversifikasi sumber impor minyak.
"Ketahanan energi adalah bagian dari kedaulatan ekonomi. Selama ketergantungan impor masih tinggi, setiap gejolak geopolitik global akan langsung terasa di dalam negeri," kata Yamin.
Stok 20 Hari
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan, ketahanan BBM di Indonesia di tengah gonjang-ganjing harga minyak, hanya memiliki stok BBM yang cukup digunakan untuk 20 hari.
Hari ini, Dewan Energi Nasional (DEN) akan membahas dampak konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terhadap pasokan energi Indonesia dalam rapat yang digelar di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Anggota DEN Satya Widya Yudha mengatakan, rapat tersebut akan dipimpin oleh Ketua Harian DEN yang juga Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, serta dihadiri oleh delapan menteri dari unsur pemerintah dan delapan pemangku kepentingan dari unsur non-pemerintah.
“Total 16 anggota DEN akan berkumpul, dipimpin Pak Bahlil, untuk membahas dampak konflik ini,” ujarnya. .
Satya menjelaskan konflik di Timur Tengah dapat menimbulkan berbagai risiko bagi Indonesia sebagai negara net importir energi. Risiko tersebut antara lain terganggunya suplai minyak dan gas, kenaikan harga minyak dunia, serta fluktuasi kurs yang dapat menekan biaya impor energi.
Ketika ditanya terkait antisipasi terjadinya krisis pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah, ia mengatakan mekanisme penetapan dan penanganan krisis dan darurat energi sudah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 41 Tahun 2016.
Dalam aturan tersebut terdapat tahapan penetapan kondisi krisis maupun darurat energi, yang akan menjadi acuan DEN dalam merumuskan langkah antisipasi. “Kaitannya dengan Timur Tengah, hal ini yang nanti akan dibahas dalam rapat,” ujar Satya.
Untuk diketahui, harga minyak global melonjak 9–10% di tengah eskalasi di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent telah naik di atas US$80 per barel untuk pertama kalinya sejak 23 Juni 2025, menurut data perdagangan pada Senin (2/3) yang dikutip dari Sputnik.
Merespons kondisi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Senin (2/3), mengakui, perang antara AS dan Iran berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Namun, tekanan harga masih bisa tertahan karena suplai minyak dari AS meningkat. Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga turut menambah kapasitas produksi.
Ia menambahkan, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi untuk mengurangi risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Salah satunya melalui nota kesepahaman (MoU) yang memungkinkan Indonesia memperoleh suplai minyak dari luar kawasan tersebut
Tinggalkan Komentar
Komentar