periskop.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kombinasi cuaca terik berseling potensi hujan mewarnai periode arus mudik Lebaran sepekan kedepan. Kondisi cuaca tidak menentu ini dipicu tingginya dinamika atmosfer skala global hingga lokal.

"BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat berdampak pada bencana hidrometeorologi," tulis laporan resmi BMKG yang dirilis di Jakarta, Senin (16/3).

Interaksi gelombang atmosfer aktif memicu pertumbuhan awan hujan cukup signifikan di wilayah Indonesia bagian tengah menuju timur. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) bersama gelombang Rossby Ekuatorial dan Kelvin terus bergerak mendominasi wilayah tersebut.

Sebagian wilayah Sumatra, Jawa, hingga Kalimantan justru menunjukkan anomali OLR positif. Kondisi ini memicu minimnya tutupan awan hujan sehingga cuaca terasa lebih terik menyengat dari biasanya.

Suhu panas tertinggi sempat melanda wilayah Jawa Barat mencapai 37,2 derajat Celsius disusul Kalimantan 36,4 derajat Celsius. Gerak semu matahari menuju ekuator turut menyumbang peningkatan suhu permukaan secara optimal.

Otoritas cuaca nasional menyoroti pentingnya perencanaan matang bagi warga sebelum melakukan mobilitas antarkota. "Kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu ini diharapkan menjadi perhatian dalam perencanaan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta berbagai kegiatan luar ruang seperti ibadah dan wisata," paparnya.

Berdasarkan prakiraan periode 17 hingga 20 Maret, cuaca nasional umumnya didominasi hujan intensitas ringan sampai sedang. Peningkatan curah hujan skala sedang hingga lebat berpotensi mengguyur mayoritas provinsi di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

BMKG turut menetapkan status siaga bencana untuk wilayah Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Barat. Status serupa berlaku di Sulawesi Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, serta Papua Selatan akibat potensi hujan sangat lebat.

Ancaman cuaca ekstrem berpotensi besar mengganggu kelancaran mobilitas masyarakat selama perjalanan pulang kampung. "Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan oleh para pengendara kendaraan bermotor terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat dan/atau petir serta angin kencang yang dapat mengganggu kelancaran perjalanan selama periode Mudik Lebaran," jelasnya.

Memasuki periode 21 hingga 23 Maret, intensitas curah hujan diprediksi masih belum mereda. Provinsi Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, hingga Papua Selatan masih berstatus siaga rawan cuaca ekstrem.

Masyarakat dituntut memiliki kewaspadaan tinggi menyikapi perubahan kondisi alam secara mendadak. Pemudik bisa memantau perkembangan cuaca terkini secara real-time melalui aplikasi InfoBMKG maupun situs resmi lembaga.

Langkah antisipatif sangat krusial meminimalkan risiko kecelakaan akibat paparan cuaca ekstrem di jalanan. "Informasi ini akan terus diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan cuaca terbaru, sehingga masyarakat dapat terus beraktivitas dengan lebih aman dan percaya diri," pungkasnya.