Periskop.id - Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan pemerintah masih menunggu hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait penyebab kecelakaan kereta api di Bekasi Timur, Jawa Barat, 27 April 2026 lalu. Pemerintah memastikan tidak akan berspekulasi ataupun menyimpulkan penyebab insiden sebelum seluruh proses investigasi teknis selesai dilakukan.

"Terhadap peristiwa di Bekasi Timur, kami menunggu hasil penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi," kata Dudy dalam Rapat Kerja Komisi V DPR RI di Jakarta, Kamis (21/5). 

Menurut Dudy, insiden di Bekasi Timur menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sistem keselamatan transportasi perkeretaapian secara menyeluruh, bukan hanya fokus pada satu kejadian semata.

Ia menjelaskan, keselamatan kereta api mencakup banyak aspek, mulai dari kondisi sarana dan prasarana, sistem operasi, kualitas sumber daya manusia, tata kelola, kedisiplinan prosedur, hingga pengawasan jalur dan penataan ruang di sekitar rel. Karena itu, pemerintah memilih berhati-hati sebelum mengumumkan kesimpulan resmi terkait penyebab kecelakaan.

“Kami tidak ingin mendahului hasil penyelidikan maupun berspekulasi dengan menyalahkan pihak tertentu sebelum seluruh fakta, data, rekaman, keterangan dan analisis teknis diperiksa secara menyeluruh,” ujar Dudy.

Menhub menegaskan, hasil investigasi KNKT nantinya akan menjadi dasar pemerintah dalam menentukan langkah korektif dan memperkuat standar keselamatan transportasi kereta api nasional. Selain itu, rekomendasi KNKT juga akan menjadi acuan dalam evaluasi operasional PT Kereta Api Indonesia (KAI), KAI Commuter, hingga sistem pengawasan lintasan dan persinyalan.

Meski investigasi masih berlangsung, pemerintah mengklaim sudah bergerak cepat sejak awal kejadian. Penanganan korban, pemulihan layanan perjalanan kereta, pemeriksaan teknis awal, hingga pengamanan lokasi kecelakaan disebut langsung dilakukan bersama berbagai instansi terkait.

Evaluasi Menyeluruh

Kementerian Perhubungan juga terus berkoordinasi dengan KNKT, PT KAI, KAI Commuter, Polri, TNI, Basarnas, pemerintah daerah, hingga tenaga medis guna memastikan proses penanganan berjalan optimal.

Dudy mengatakan, evaluasi menyeluruh akan terus dilakukan untuk memperkuat sistem keselamatan perkeretaapian nasional. Evaluasi tersebut mencakup kondisi jalur rel, kelaikan sarana, sistem persinyalan, prosedur tanggap darurat, kompetensi SDM, hingga manajemen risiko operasional.

Selain itu, pemerintah juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap perlintasan sebidang yang selama ini masih menjadi salah satu titik rawan kecelakaan kereta di Indonesia.

“Setiap kecelakaan harus menjadi peringatan penting untuk terus meningkatkan keselamatan, sehingga tidak ada ruang bagi kelengahan dan seluruh perbaikan dapat dilakukan secara konsisten sebelum maupun setelah rekomendasi investigasi diterbitkan,” kata Dudy.

Dalam kesempatan tersebut, Menhub juga menyampaikan belasungkawa kepada korban dan keluarga terdampak akibat kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa tersebut. Pemerintah berharap korban yang masih menjalani perawatan dapat segera pulih dan kembali beraktivitas.

“Kementerian Perhubungan turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses penanganan darurat, termasuk Basarnas, kepolisian, TNI, tenaga medis, serta berbagai unsur lain yang membantu evakuasi korban,” ujar Dudy.

Insiden kereta di Bekasi Timur sebelumnya menjadi perhatian publik karena kembali menyoroti isu keselamatan transportasi massal di wilayah Jabodetabek yang memiliki mobilitas tinggi. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, jumlah perjalanan kereta api di wilayah perkotaan terus meningkat setiap tahun seiring pertumbuhan pengguna commuter line dan kereta antarkota.

Sementara itu, KNKT sebelumnya juga beberapa kali menyoroti pentingnya modernisasi sistem persinyalan, penguatan budaya keselamatan, serta penataan perlintasan sebidang untuk menekan angka kecelakaan kereta api di Indonesia.