Periskop.id - Pemerintah Kota Jakarta Selatan mulai melakukan sosialisasi penutupan sejumlah perlintasan kereta api liar di jalur Manggarai–Tebet–Cawang, sebagai upaya meningkatkan keselamatan perjalanan kereta dan pengguna jalan.
Langkah awal dilakukan melalui pemasangan spanduk peringatan serta survei terhadap sejumlah titik perlintasan tidak resmi yang selama ini kerap digunakan warga. Wakil Camat Tebet Bayu Fadayen Gantha mengatakan pemerintah bersama pihak terkait telah mendata sedikitnya 11 titik perlintasan liar yang berada di sepanjang jalur tersebut.
"Tadi kalau kita survei ada 11 titik, prioritas kita sekarang masih untuk pengguna jalan, tapi nanti akan kami rapatkan kembali untuk berapa titik yang nanti akan ditutup," katanya di Jakarta, Selasa (12/5).
Menurut Bayu, penutupan tahap awal akan difokuskan di jalur Tebet–Cawang yang dinilai memiliki tingkat risiko tinggi, terhadap keselamatan warga maupun operasional kereta api. Sementara itu, jalur Tebet–Manggarai disebut akan menjadi tahap berikutnya setelah proses koordinasi dan sosialisasi selesai dilakukan.
"Nanti Tebet - Manggarai mungkin akan menyusul setelah sudah dilaksanakan penutupan di Tebet - Cawang," kata Bayu.
Penguatan Sistem Pengamanan
Ia menjelaskan, pemerintah masih melakukan rapat koordinasi untuk menentukan titik mana yang benar-benar harus ditutup dan mana yang masih dapat dipertahankan dengan penguatan sistem pengamanan. Penguatan tersebut meliputi penambahan personel penjaga hingga penyusunan standar operasional prosedur (SOP) demi meminimalkan risiko kecelakaan.
Kepala Stasiun Tebet Muhammad Zul Faroki atau Okky menyambut baik langkah Pemerintah Kota Jakarta Selatan yang mulai serius menangani perlintasan liar di kawasan tersebut. Menurutnya, keberadaan jalur penyeberangan ilegal di sekitar rel kereta menjadi salah satu ancaman keselamatan yang harus segera ditangani.
"Mudah-mudahan dan kita berharap nanti ada perlintasan liar yang bisa kita tutuplah nantilah dari 11 perlintasan liar yang ada di antara Stasiun Tebet dan Cawang," imbuhnya.
Okky juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan melintasi jalur rel karena risiko kecelakaan sangat tinggi, terlebih di lintasan padat seperti Manggarai–Cawang yang menjadi salah satu jalur tersibuk KRL Jabodetabek. Okky pun mengimbau kepada masyarakat untuk lebih meningkatkan keselamatan karena melewati perlintasan kereta api itu sangat berbahaya.
Titik Tersibuk
Kawasan Manggarai–Cawang diketahui menjadi salah satu lintasan kereta paling padat di Jakarta karena dilalui berbagai perjalanan KRL Commuter Line, kereta jarak jauh, hingga kereta bandara. Data PT KAI dan KAI Commuter sebelumnya menunjukkan Stasiun Manggarai kini menjadi stasiun sentral utama di Jabodetabek setelah program switch over jalur beberapa tahun terakhir.
Padatnya frekuensi perjalanan kereta membuat keberadaan perlintasan liar dinilai sangat membahayakan keselamatan masyarakat. Penertiban perlintasan sebidang liar sebenarnya telah lama menjadi perhatian pemerintah pusat dan PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Mengacu data Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Indonesia masih memiliki ribuan perlintasan sebidang, termasuk ratusan titik ilegal tanpa penjagaan resmi. Sejumlah kecelakaan maut dalam beberapa tahun terakhir banyak terjadi di perlintasan tidak resmi yang minim pengamanan.
Sebelumnya, dilaporkan, sejumlah daerah mulai menata dan menutup perlintasan liar demi mengurangi angka kecelakaan kereta api dan meningkatkan keselamatan transportasi publik. Pemerintah berharap sosialisasi yang dilakukan di kawasan Tebet dapat meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak lagi menggunakan jalur ilegal untuk melintasi rel kereta api.
Tinggalkan Komentar
Komentar