periskop.id - Pembina Forum Tempe Indonesia Aman Wirakartakusumah mendorong tempe agar berkembang melampaui statusnya sebagai makanan tradisional. Ia mengusulkan konsep Tempe 3.0, yang menempatkan tempe sebagai platform inovasi pangan masa depan.
Rektor Institut IPMI sekaligus ilmuwan senior SEAFAST Center IPB itu merinci tiga lapisan evolusi tempe. Tempe 1.0 ia kategorikan sebagai warisan budaya, Tempe 2.0 sebagai pangan sehat, dan Tempe 3.0 sebagai platform inovasi yang mencakup bahan fungsional, pangan kesehatan, hingga personalized nutrition.
"Dalam konsep Tempe 3.0 adalah platform inovasi masa depan. Tempe seperti ini bahan-bahan fungsional, panganan kesehatan, nutrisi, healthy aging tool, personalized nutrition," kata Aman dalam perayaan Hari Tempe Nasional di Jakarta, Rabu (17/6).
Di luar inovasi, Aman juga menyoroti upaya pelindungan tempe di tingkat internasional. Ia memaparkan, pengajuan tempe sebagai warisan budaya tak benda UNESCO memerlukan dokumentasi yang kuat serta pemberdayaan komunitas secara aktif.
Pihaknya bersama Kementerian Kebudayaan, menurutnya, terus mendorong agar status warisan budaya nasional itu segera mendapat persetujuan UNESCO. Komunitas dinilainya wajib tetap menjadi pelaku utama dalam menjaga dan mewariskan keterampilan, nilai, serta praktik sosial yang melekat pada tempe.
Dari sisi sejarah, Aman menerangkan tempe telah berkembang sejak abad ke-18 dan menjadi sumber penyebaran pengetahuan, nilai budaya, serta filosofi. Tempe yang tumbuh dari Pulau Jawa ini, menurutnya, memiliki kedalaman makna yang membuatnya layak menjadi media diplomasi berbasis budaya.
Potensi tempe di pasar global juga disebut Aman cukup nyata. Tempe telah diterima di sejumlah negara, yakni Belanda, Jerman, Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan Jepang, yang semuanya merupakan basis pasar pangan nabati yang berkembang pesat.
Dari sisi gizi, tempe diketahui kaya protein berkualitas tinggi dan mengandung serat yang beragam. Kandungan tersebut menjadikannya produk fermentasi dengan manfaat luas bagi kesehatan tubuh.
Nilai ekonomi tempe pun disebut kerap menjadi pembahasan di forum-forum internasional. Kondisi ini, menurut Aman, mencerminkan potensi nyata tempe sebagai penggerak ekonomi nasional yang belum sepenuhnya digarap.
Aman menegaskan, langkah konkret yang kini diprioritaskan adalah memastikan komunitas pengrajin tempe tidak tersisih dari proses modernisasi. Mereka justru harus menjadi inti dari ekosistem inovasi yang dibangun di atas warisan leluhur tersebut.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar