Periskop.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong kenaikan anggaran stimulan hunian tetap (huntap) bagi korban banjir dan tanah longsor di Aceh. Besaran bantuan per unit diusulkan naik dari Rp60 juta menjadi Rp80 juta.
Kepala BNPB Suharyanto menerangkan, penyesuaian nominal tersebut menyasar rumah berkategori rusak berat. Wilayah Aceh disebut memiliki tantangan tersendiri dalam pengadaan dan distribusi material bangunan, sehingga kenaikan anggaran dinilai perlu.
"Peningkatan nilai bantuan diharapkan dapat menghasilkan kualitas bangunan yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak," ujar Suharyanto dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (17/6).
Usulan kenaikan ini, menurut Suharyanto, sudah mendapat kesepakatan dalam Rapat Tingkat Menteri yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Namun, pembahasan teknis masih terus berlangsung.
Huntap yang dibangun menggunakan skema in situ, yakni di atas lahan milik warga sendiri. Setiap unit dirancang sebagai bangunan permanen tipe 36 dengan dua kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu, dinding bata plester, dan rangka atap baja ringan.
Secara keseluruhan, BNPB mencatat sekitar 15.000 unit huntap in situ telah diusulkan untuk dibangun. Usulan tersebut tersebar di tiga provinsi terdampak, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Dari total usulan itu, sebanyak 800 hingga 900 unit kini tengah dibangun secara serentak di berbagai lokasi. Hampir 400 unit di antaranya dilaporkan sudah rampung secara fungsional.
Suharyanto menegaskan, proses rehabilitasi dan rekonstruksi dijalankan secara bertahap dan berkelanjutan. Setiap hunian yang selesai dibangun langsung diserahkan kepada warga penerima manfaat agar bisa segera ditempati.
Penyerahan bertahap ini, menurut dia, juga bertujuan memberi gambaran nyata kepada masyarakat terdampak bahwa pembangunan terus berjalan meski tidak bisa selesai sekaligus.
"Dari Aceh Tamiang, Aceh Timur sampai ke Aceh Utara, beberapa rumah sudah jadi dan langsung diserahkan ke masyarakat. Supaya masyarakat terdampak melihat bahwa semuanya tidak bisa seketika jadi, tapi ini proses berjalan terus," pungkas Suharyanto.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar