Periskop.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan lebih dari 16 ribu warga di Jawa Tengah terdampak krisis air bersih akibat musim kemarau. Tiga wilayah yang paling parah terdampak adalah Kabupaten Klaten, Banyumas, dan Pemalang.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari memaparkan, dampak kekeringan di Klaten paling besar dibanding dua kabupaten lain. Sedikitnya 3.148 kepala keluarga atau 10.407 jiwa di empat desa Kecamatan Kemalang mengalami krisis air bersih, menurutnya.

"Dampak musim kemarau masih menyebabkan krisis air bersih di Kabupaten Klaten. Sedikitnya 3.148 kepala keluarga atau 10.407 jiwa terdampak di empat desa yang berada di Kecamatan Kemalang, antara lain Desa Kendalsari, Desa Tegalmulyo, Desa Tlogowatu dan Desa Sidorejo," kata Abdul Muhari dalam keterangan tertulis, Selasa (14/7).

Pria yang akrab disapa Aam itu menerangkan, BPBD Kabupaten Klaten terus berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk mendistribusikan air bersih. Sejak 15 Juni hingga 13 Juli 2026, tercatat 236 tangki atau sekitar 1.180.000 liter air telah disalurkan ke empat desa terdampak, dengan rincian 46 tangki ke Kendalsari, 51 tangki ke Tegalmulyo, 67 tangki ke Tlogowatu, dan 72 tangki ke Sidorejo.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Banyumas. Aam menyebutkan, kekeringan di wilayah tersebut berdampak pada 1.820 kepala keluarga atau 5.648 jiwa yang tersebar di enam kecamatan, yakni Purwokerto Timur, Karanglewas, Sumpluh, Jatilawang, Cilongok, dan Kemrajen.

BPBD Banyumas, menurut Aam, telah menyiapkan sarana penampungan air bagi warga terdampak. Pada Senin (13/7), petugas mendistribusikan masing-masing 5.000 liter air bersih ke dua titik di Desa Kedungpring, Kecamatan Kemranjen, menggunakan truk tangki.

"Selain itu, air bersih juga telah disalurkan langsung kepada warga melalui toren berkapasitas 2.000 liter serta penampungan air yang tersedia," ujarnya.

Di Kabupaten Pemalang, kekeringan berdampak pada sedikitnya 2.923 kepala keluarga yang tersebar di Kecamatan Belik, Bawang, dan Pulosari. Pemerintah setempat bahkan sudah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Kekeringan hingga 31 November 2026.

"BPBD Kabupaten Pemalang terus mendistribusikan bantuan air bersih kepada masyarakat. Pada Senin (13/7), sebanyak 56.000 liter air bersih disalurkan menggunakan tiga armada mobil tangki. Berdasarkan hasil asesmen di lapangan, kebutuhan air bersih masyarakat diperkirakan dapat terpenuhi untuk tiga hari ke depan," kata Aam.

Sementara itu, prediksi curah hujan kumulatif dasarian II Juli 2026 dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia bakal didominasi hujan kategori rendah pada 11-20 Juli 2026.

Merespons prediksi tersebut, BNPB meminta pemerintah daerah mengoptimalkan distribusi air bersih dan menyiapkan sarana penampungan di wilayah rawan kekeringan. Masyarakat pun diimbau memakai air secara bijaksana dan efisien.

"Meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau, masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin oleh otoritas daerah setempat," kata Aam.