periskop.id - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir merancang skema kurikulum baru yang mewajibkan Sekolah Dasar (SD) memilih satu dari tiga cabang olahraga induk (mother sport) sebagai fokus pembinaan usia dini.

"Kita tahu mother sport itu ada yang namanya akuatik, atletik, dan gimnastik. Nah nanti sekolah SD, SMP, SMA mereka pilih satu," kata Erick dalam Rapat Kerja bersama Komisi X DPR RI di Jakarta, Selasa (27/1).

Ketiga cabang tersebut dipilih karena merupakan fondasi dasar fisik manusia. Kemenpora ingin memastikan setiap anak Indonesia memiliki kemampuan gerak dasar yang baik sebelum menekuni cabang olahraga prestasi lainnya.

Erick menyadari keterbatasan infrastruktur di berbagai daerah. Pihaknya memberikan fleksibilitas penuh bagi sekolah untuk menentukan pilihan cabang olahraga sesuai dengan fasilitas yang tersedia di lingkungan masing-masing.

Sekolah di pedesaan tanpa akses kolam renang tidak akan dipaksa mengambil kurikulum akuatik. Mereka bisa memilih atletik yang fasilitasnya lebih sederhana, seperti lari atau lompat yang bisa dilakukan di lapangan terbuka.

"Kalau di SD mungkin kita paksakan harus ikut berenang, di mana berenangnya? Tapi kalau mereka hanya lomba lari, lomba loncat, tetap bisa. Jadi kita tidak memandatorikan ketiga jenis mother sport itu, tapi kita berikan fleksibilitas mana yang mereka bisa lakukan," jelasnya.

Kebijakan ini juga berlaku bagi sekolah di perkotaan. Jika sekolah di kota besar memiliki akses mudah ke klub renang atau gelanggang olahraga, mereka bisa bekerja sama untuk menerapkan kurikulum akuatik atau senam.

Program ini merupakan bagian dari sinkronisasi dengan Bappenas terkait Desain Besar Olahraga Nasional (DBON). Pemerintah menetapkan 21 cabang olahraga unggulan yang pembinaannya harus dimulai secara terstruktur dari tingkat sekolah.

Jenjang pendidikan yang lebih tinggi akan memiliki kuota cabang olahraga lebih banyak. Setelah fondasi terbentuk di SD, jenjang SMP ditargetkan memiliki empat cabang olahraga unggulan, dan SMA sebanyak enam cabang olahraga.

Langkah ini diambil untuk menciptakan kolam talenta (talent pool) yang luas sejak dini. Erick tidak ingin pencarian bakat atlet hanya mengandalkan keberuntungan, melainkan melalui sistem yang terintegrasi langsung dengan institusi pendidikan.

Selain mencetak atlet, kurikulum ini bertujuan membangun karakter generasi muda. Aktivitas fisik terukur sejak SD diharapkan menanamkan jiwa sportivitas, semangat juang, dan mental kompetitif yang sehat bagi anak-anak Indonesia.