periskop.id - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mengungkapkan keberhasilan pihaknya mengamankan kuota 100 beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang dikhususkan bagi pengembangan sumber daya manusia di ekosistem olahraga nasional.
"Kami sudah mendapat komitmen 100 LPDP dari Kemenkeu (Kementerian Keuangan). Dimana nanti kita akan lokasikan 60 untuk atlet, 20 untuk tenaga kepelatihan, 20 untuk manajemen olahraga," kata Erick dalam Rapat Kerja bersama Komisi X DPR RI di Jakarta, Rabu (28/1).
Langkah strategis ini merupakan respons pemerintah terhadap kekhawatiran mengenai masa depan atlet pasca-gantung sepatu. Erick menilai negara tidak boleh hanya menuntut medali, tetapi abai terhadap kelangsungan hidup para pahlawan olahraga setelah masa emas mereka berakhir.
Alokasi beasiswa terbagi secara proporsional untuk memperkuat seluruh lini industri olahraga. Atlet mendapatkan porsi terbesar untuk menjamin pendidikan formal mereka, sementara pelatih dan tenaga manajemen disiapkan untuk meningkatkan kualitas tata kelola olahraga secara profesional.
Program pendidikan ini berjalan beriringan dengan rencana pembentukan dana pensiun atlet. Kemenpora tengah merumuskan Peraturan Pemerintah (PP) terkait pendanaan keolahragaan dan pembentukan dana perwalian (trust fund) olahraga.
Pihaknya mengaku telah melakukan studi banding ke negara tetangga untuk mematangkan konsep tersebut. Erick secara khusus bertemu Menteri Olahraga Malaysia pada tanggal 10 lalu untuk mempelajari skema jaminan hari tua atlet yang sudah berjalan di sana.
"Sebenarnya di undang-undangnya sudah ada, cuma kita sedang membentuk seperti apa ini bisa terlaksana ke depannya. Malaysia punya, India punya. Karena itu saya diterima oleh Menteri Olahraga Malaysia untuk benchmarking," jelasnya.
Selain jaminan pendidikan dan pensiun, mekanisme pemberian bonus prestasi kini diperketat dengan syarat edukasi finansial. Uang bonus memang ditransfer langsung ke rekening atlet tanpa perantara, namun pencairannya memiliki syarat khusus.
Erick menggandeng pihak perbankan pelat merah (Himbara) untuk memberikan pendampingan. Atlet penerima bonus wajib mengikuti sesi literasi keuangan agar mampu mengelola uang jumbo tersebut secara bijak untuk investasi masa depan.
"Kami bekerjasama BRI membuat program literasi untuk finansial. Jadi supaya atlet-atlet ini tahu ketika mendapat bonus, mereka bisa melihat dana ini buat apa," tegas mantan Ketua Panitia Asian Games 2018 tersebut.
Transformasi kesejahteraan ini diharapkan mengubah paradigma lama tentang nasib atlet yang seringkali terlantar di usia tua. Melalui beasiswa, dana pensiun, dan literasi keuangan, profesi atlet didorong menjadi pilihan karier yang menjanjikan secara jangka panjang.
Komisi X DPR RI menyambut positif terobosan ini. Para legislator menilai jaminan kesejahteraan merupakan elemen vital untuk menarik minat generasi muda terjun menjadi atlet profesional dan mengharumkan nama bangsa di kancah dunia.
Tinggalkan Komentar
Komentar