periskop.id – Direktur Utama LPP TVRI Iman Brotoseno mengungkapkan pihaknya akan menghadirkan pengalaman visual baru bagi penonton Piala Dunia 2026, yakni tayangan eksklusif yang memperlihatkan suasana tegang di dalam ruang ganti pemain dan pelatih.
“Masyarakat bisa melihat pelatih Carlo Ancelotti dari Brazil marah-marah kepada pemain bolanya. Behind the scene-nya, ini sesuatu yang baru,” kata Iman dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR RI di Jakarta, Kamis (29/1).
Terobosan ini diklaim belum pernah ada dalam sejarah penyiaran turnamen sepak bola di Indonesia sebelumnya. Selama ini, pemegang hak siar umumnya hanya menayangkan jalannya pertandingan di lapangan hijau tanpa akses ke area privat tim.
Iman menjelaskan durasi tayangan di ruang ganti tersebut cukup panjang. TVRI akan menyajikan suasana locker room selama kurang lebih satu jam untuk memberikan gambaran utuh emosi para bintang lapangan.
Fitur ini memungkinkan penonton merasakan tensi yang berbeda. Publik tidak hanya disuguhi taktik permainan, tetapi juga drama psikologis yang terjadi saat jeda babak atau sebelum laga dimulai.
Langkah ini diambil TVRI untuk membangun ekosistem penyiaran yang lebih lengkap. Tontonan Piala Dunia tidak lagi sekadar pertandingan 2x45 menit, melainkan sebuah paket hiburan seharian penuh.
Selain intip ruang ganti, TVRI menyiapkan ragam konten pendukung lainnya. Kuis interaktif, sinetron bertema bola, hingga film dokumenter perjalanan tim-tim peserta siap memanjakan pemirsa.
Strategi konten yang variatif ini bertujuan menarik kembali atensi publik. Manajemen ingin menjadikan momentum pesta bola dunia ini sebagai titik balik agar masyarakat kembali mencintai TVRI.
Tayangan eksklusif ini juga akan dilengkapi dengan laporan langsung dari lokasi. TVRI bakal mengirim kru peliputan ke tiga negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Iman optimistis inovasi ini akan memberikan warna baru bagi industri penyiaran. Hadiah hiburan dari negara ini diharapkan memberikan kegembiraan maksimal bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Tinggalkan Komentar
Komentar