periskop.id - Pernahkah kamu merasa sangat iba pada seseorang yang viral, lalu tiba-tiba merasa kena prank oleh kenyataan? Fenomena ini berkaitan dengan Jajat Suderajat, pedagang asal Bogor yang menjual jajanan legendaris, es gabus. 

Awalnya, kita semua sepakat mendukungnya saat ia diterpa isu miring es bahan spons. Tapi, suasana mendadak canggung ketika Kang Dedi Mulyadi (KDM) membongkar fakta-fakta di balik keluhannya. Ada motor pemberian polisi yang tak disyukuri, hingga pengakuan tak punya rumah padahal sedang direnovasi pemerintah. 

Apa yang sebenarnya terjadi? 

Dapat Motor Baru Tapi Mengaku Sial, Ada Apa dengan Jajat? 

Momen pertemuan antara Jajat dan KDM seharusnya menjadi ajang silaturahmi yang hangat. Namun, suasana berubah menjadi canggung saat Jajat memberikan pernyataan yang dinilai tidak selaras dengan kenyataan. Saat ditanya mengenai kabarnya setelah viral di media sosial, Jajat justru mengeluh. Bukannya bercerita tentang peningkatan omzet atau rasa syukur atas perhatian publik, ia justru berucap, "Bukan jadi untung, jadi buntung." Kalimat ini seolah menghapus jejak kebaikan yang telah dilakukan banyak pihak sejak kasus es spons itu mencuat. 

Mendengar hal itu, KDM tidak tinggal diam. Ia mencoba mengingatkan Jajat tentang pemberian unit sepeda motor baru dari Kapolres Metro Depok, Kombes Abdul Waras. 

Bagi banyak orang, mendapatkan motor secara cuma-cuma adalah anugerah besar yang bisa digunakan untuk mempermudah operasional berdagang. Namun, Jajat justru tampak enggan mengakui itu sebagai keuntungan pribadi. Ia berkelit dengan mengatakan bahwa motor tersebut adalah untuk anaknya. 

Ketidakmampuan Jajat untuk mengakui bantuan ini sebagai sebuah keuntungan memicu kecurigaan bahwa ia tengah membangun narasi agar terlihat tetap susah demi mengharap simpati yang lebih besar lagi. Di sinilah letak ironinya, saat publik berlomba memberikan tangan, sang penerima justru merasa tangan tersebut tidak membawa perubahan apa pun. 

Manipulasi Fakta atau Lupa? Menilik Perubahan Drastis Keterangan Jajat 

Setelah persoalan aset, pembicaraan merembet ke urusan dapur dan pendidikan. Jajat mengklaim bahwa dirinya sangat terbebani oleh tunggakan sekolah anaknya. 

Di depan kamera, ia mengaku harus menunggak biaya sebesar Rp1,5 juta selama empat bulan. Narasi ini berpotensi memancing donatur untuk kembali membuka dompet mereka. Namun, KDM yang dikenal kritis mulai bertanya lebih lanjut. 

Ketika ditanya lebih detail mengenai biaya per bulan, Jajat menyebutkan angka Rp200 ribu. Jika kita menggunakan matematika dasar, tunggakan empat bulan seharusnya hanya mencapai Rp800 ribu. Dari mana datangnya angka Rp1,5 juta? 

Saat didesak lebih jauh, keterangan Jajat pun mulai goyah. Ia kemudian meralat ucapannya dan mengaku bahwa ia sebenarnya baru menunggak satu bulan saja. Perubahan keterangan yang drastis ini, dari empat bulan menjadi satu bulan, dan dari jutaan menjadi ratusan ribu, menunjukkan adanya indikasi manipulasi fakta demi dramatisasi keadaan. 

Lebih jauh lagi, KDM menegaskan sebuah fakta bahwa sekolah negeri di Jawa Barat pada dasarnya tidak dipungut biaya alias gratis. Jika memang ada pungutan liar hingga jutaan rupiah, KDM bahkan siap menghubungi Bupati Bogor, Rudy Susmanto, untuk menindaklanjuti hal tersebut.  

Mengaku Tunawisma, Ternyata Punya Rumah yang Sedang Diperbaiki Negara 

Bagian paling mengejutkan dari kontroversi ini adalah soal tempat tinggal. Jajat sempat memberikan kesan bahwa ia adalah tunawisma yang terpaksa mengontrak dan terancam diusir karena tidak mampu membayar. 

Ia menggambarkan betapa mirisnya nasibnya, hingga menyebut harus tidur di kolong jembatan jika diusir dari kontrakan. 

Narasi kemiskinan ekstrem ini biasanya sangat ampuh untuk menggerakkan hati netizen Indonesia yang dermawan. Namun, fakta yang diungkap oleh aparat setempat justru membongkar skenario tersebut. 

Sekretaris Camat Bojonggede, Elvinila Hartini, mengonfirmasi bahwa Jajat sebenarnya memiliki rumah sendiri di Desa Rawa Panjang, Kabupaten Bogor. 

Bahkan, pemerintah tidak tinggal diam melihat kondisi rumahnya yang kurang layak. Rumah tersebut telah didaftarkan dan mendapatkan bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dengan anggaran tahun 2025. 

Fakta bahwa Jajat saat ini tinggal di kontrakan memang benar, namun alasan di baliknya bukanlah karena ia tidak punya rumah, melainkan karena rumah pribadinya sedang direnovasi oleh pemerintah.  

Ketidakterbukaan Jajat soal kepemilikan rumah dan bantuan renovasi ini dianggap sebagai bentuk tidak bersyukur oleh sebagian besar netizen. Pemerintah Kabupaten Bogor bahkan sudah melangkah lebih jauh dengan menyekolahkan kembali dua anak Jajat yang sebelumnya putus sekolah.  

Dengan bantuan motor, renovasi rumah, logistik makanan, hingga Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang sedang diproses, pengakuan Jajat bahwa "tidak ada yang bantu" benar-benar mencoreng kepercayaan publik. 

Kasus ini menjadi alarm bagi kita semua agar lebih selektif dan kritis dalam menyerap informasi viral, karena di balik wajah yang memelas, terkadang ada fakta yang sengaja disembunyikan.