Periskop.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan mulai merevitalisasi kawasan Kota Tua, untuk mengembalikan identitas Jakarta sekaligus memperkuat posisi sebagai kota global yang berakar pada sejarah dan budaya. Rencana revitalisasi tersebut dibahas dalam acara "Intimate Dialogue Kota Tua Update" dengan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta beserta jajaran.

“Di sini kita memberikan keyakinan bahwa Pemprov DKI serius untuk membangun Kota Tua. Kita sudah mempunyai tim revitalisasi Kota Tua dan Insya Allah di saat waktunya tepat, saya sendiri sebagai penanggung jawab akan berkantor di Kota Tua,” ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta sekaligus Ketua Tim Revitalisasi dan Penataan Kota Tua Rano Karno di Balai Kota, Kamis (9/4).

Rano menjelaskan, tujuannya berkantor di sana adalah untuk mengawasi langsung proses revitalisasi di kawasan Kota Tua. Selain itu, Rano menyebut pihaknya juga sudah membentuk Kelompok Kerja (Pokja) agar koordinasi terkait revitalisasi Kota Tua dapat berjalan dengan baik.

Revitalisasi Kota Tua pun turut melibatkan para pakar yang sebelumnya membantu membangun Kota Lama di Semarang. Lebih lanjut Rano menjelaskan dalam proses revitalisasinya, Kota Tua akan dibagi menjadi tiga zona yakni zona inti, zona pengembangan dan zona penunjang.

“Yang akan kita fokus adalah di zona intinya dulu. Ini luasnya kira-kira kalau dari total Kota Tua itu hampir 363 hektar, tapi kalau zona inti kira-kira cuman 80. Tapi zona inti ini juga termasuk yang namanya Museum Bahari itu zona inti. Kemudian, Alun-alun Fatahillah,” jelas Rano.

Selain itu, Pemerintah Jakarta juga mengutamakan pembangunan area parkir dan pedagang kaki lima (PKL) dalam proses revitalisasi Kota Tua. Menurut Rano, kedua fasilitas itu penting agar suasana di Kota Tua tampak rapi dan tak mengganggu kehidupan masyarakat sekitar.

Pemindahan IKJ
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo membantah isu terkait pemindahan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ke kawasan Kota Tua. Pramono menjelaskan, pihaknya tidak memiliki rencana memindahkan kampus seni tersebut, namun akan menyediakan ruang bagi seniman untuk berkarya di kawasan itu.

“Jadi saya ingin meluruskan, IKJ nanti ataupun seniman-seniman akan kita kasih ruang tempat untuk berekspresi seluas-luasnya di Kota Tua. Bahwa nanti akan ada gedung yang kami persiapkan untuk IKJ, iya. Tetapi setelah kami kaji bukan kemudian kami akan memindahkan IKJ,” ujar Pramono.

Lebih lanjut ia memaparkan, pemindahan IKJ justru berpotensi menggeser tujuan utama pengembangan Kota Tua sebagai destinasi wisata berbasis budaya. Nantinya kawasan tersebut akan diarahkan menjadi wadah bagi aktivitas seni dan pelestarian kultural Jakarta.

Pramono menyebut karakter Kota Tua memiliki kemiripan dengan kawasan bersejarah di Eropa. Ia menilai kawasan tersebut bisa dikembangkan sebagai etalase budaya Jakarta yang kuat.

“Kota Tua ini kan sebenarnya seperti Amsterdam-nya Belanda karena setipe,” ungkap Pramono.

Selain memperkuat budaya dan seni dalam proses revitalisasi Kota Tua, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga akan menyiapkan pembangunan berbasis transit (transit oriented development/TOD) berskala besar di kawasan tersebut. Pramono meyakini, integrasi transportasi dan ruang publik di kawasan itu akan memperkuat daya tarik Kota Tua sebagai destinasi wisata sekaligus pusat kegiatan seni.

Sebelumnya, Pramono juga sempat menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI hanya memindahkan ruang ekspresi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ke Kota Tua, bukan tempat mahasiswa mengenyam pendidikan kesenian tersebut. Berpindahnya ruang ekspresi IKJ itu diharapkan dapat menjadi pemantik untuk menghidupkan kembali Kota Tua sebagai kawasan cagar budaya.

"Kemudian nanti di Kota Tua, kami bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan juga dengan Kementerian Investasi," tuturnya.