periskop.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tren pelemahan pada pekan 25–29 Mei 2026, dengan potensi mengarah ke level Rp18.000 per dolar AS di tengah tekanan eksternal dan persoalan struktural domestik.
Analis pasar Ibrahim Assuaibi menyampaikan, pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan tertekan, seiring penguatan indeks dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah dunia.
“Untuk rupiah, ada kemungkinan besar ini akan menuju level 18.000,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (25/5).
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah bukan semata disebabkan faktor teknis moneter, melainkan dipengaruhi oleh persoalan struktural yang berada di luar kendali otoritas moneter.
“Sebenarnya pelemahan mata uang rupiah itu bukan merupakan kesalahan teknis moneter dari Bank Indonesia, tapi ini merupakan kesalahan struktural di luar kendali otoritas moneter,” jelasnya.
Menurut Ibrahim, akar persoalan utama berasal dari defisit neraca transaksi berjalan yang bersifat struktural dan terus menekan nilai tukar. Kondisi ini diperparah oleh tingginya kebutuhan impor, khususnya energi.
Ia menuturkan, kenaikan harga minyak mentah dunia yang telah berada di atas US$90 per barel membuat beban impor Indonesia meningkat signifikan. Sementara itu, asumsi harga minyak dalam APBN 2026 berada jauh di bawah level pasar.
“Kenaikan Rp1 per barrel itu adalah diasumsikan Rp4 triliun, sehingga kebutuhannya cukup banyak,” ungkapnya.
Selain itu, tingginya impor minyak yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari, dengan sebagian besar digunakan untuk subsidi bahan bakar, turut meningkatkan kebutuhan devisa dalam dolar AS.
Di sisi lain, upaya pemerintah untuk menarik arus modal asing dinilai belum optimal. Ibrahim menilai aliran dana yang masuk selama ini lebih banyak berasal dari utang, bukan investasi langsung.
“Kalau seandainya rupiah ingin menguat itu ada dua cara yaitu dengan aliran masuk berupa investasi atau dana atau hutang. Tetapi yang terjadi selama ini bukan arus modal asing investasi, tetapi adalah hutang,” katanya.
Sentimen eksternal juga memperburuk tekanan terhadap rupiah, terutama penguatan indeks dolar AS yang diperkirakan tetap berada di atas level 100, serta ketidakpastian global akibat tensi geopolitik.
Selain itu, rencana kebijakan domestik terkait tata kelola komoditas melalui satu pintu juga dinilai berpotensi memicu respons negatif dari lembaga pemeringkat internasional.
“Kemungkinan besar S&P Global ini akan menurunkan rating utang obligasi Indonesia. Ini yang ditakutkan oleh pasar,” ujar Ibrahim.
Dengan kombinasi tekanan eksternal dan struktural tersebut, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam tren melemah dalam jangka pendek, dengan level Rp18.000 per dolar AS menjadi target yang berpotensi diuji dalam waktu dekat.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar