Periskop.id - Festival Layang-Layang Internasional Garut didorong menjadi agenda rutin dalam kalender pariwisata Jawa Barat dan nasional. Penyelenggaraan tahunan dinilai dapat memperluas promosi daerah sekaligus menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, UMKM, dan ekonomi kreatif.

Dorongan tersebut disampaikan Anggota DPRD Jawa Barat dari Daerah Pemilihan Kabupaten Garut, Aten Munajat, setelah meninjau festival di Agrowisata Tepas Papandayan, Desa Karamatwangi, Kecamatan Cisurupan.

"Ke depan diharapkan festival ini dapat menjadi agenda tahunan yang masuk dalam kalender pariwisata Jawa Barat maupun nasional," kata Aten di Garut, Minggu (2/8).

Garut International Kite Festival 2026 berlangsung selama lima hari pada 29 Juli hingga 2 Agustus. Festival perdana berskala internasional di Garut tersebut mempertemukan pelayang dari Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, China, Jepang, Korea Selatan, Swiss, Swedia, Prancis, Italia, Belgia, dan Indonesia.

Diharapkan Menggerakkan Ekonomi Lokal

Menurut Aten, kedatangan peserta dan pengunjung dari luar daerah memberikan dampak yang meluas. Perputaran ekonomi tidak hanya terjadi di lokasi festival, tetapi juga menjangkau hotel, penginapan, tempat makan, transportasi, penjual produk lokal, hingga pelaku ekonomi kreatif.

"Tentunya akan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat dan berbagai sektor usaha lainnya," kata Aten.

Festival mengusung tema Where Nature and Culture Meet The Sky. Selain atraksi layang-layang internasional, penyelenggara menghadirkan pertunjukan budaya, bazar UMKM, kuliner khas Garut, hiburan, dan kegiatan wisata keluarga.

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut Aam Pathulloh mengatakan perpaduan atraksi internasional dan budaya daerah menjadi kekuatan utama kegiatan tersebut.

"Festival ini menghadirkan perpaduan keindahan alam pegunungan Garut dengan kekayaan budaya lokal melalui pertunjukan layang-layang berskala internasional, hiburan, serta berbagai aktivitas wisata dan ekonomi kreatif," tuturnya. 

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Garut sebelumnya menargetkan festival dapat menarik sekitar 20 ribu pengunjung. Biaya penyelenggaraan ditanggung pihak swasta dan investor, sedangkan pemerintah daerah memberikan dukungan berupa perizinan, kebersihan, pencahayaan, pembenahan akses jalan, dan penampilan kesenian lokal.

"Di kita itu sebenarnya tidak ada anggaran sama sekali, ini regulasi saja yang kita support," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut Beni Yoga Gunasantika.

Garut Dipromosikan ke Wisatawan Internasional

Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menilai kehadiran peserta mancanegara dapat memperkenalkan daerahnya kepada komunitas global. Pengunjung festival juga diharapkan melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi lain selama berada di Garut.

"Yang pasti juga lebih mengenalkan lagi Garut kepada komunitas internasional," kata Syakur.

Potensi tersebut ditopang oleh beragam pilihan wisata di Garut. Data pemerintah daerah mencatat terdapat 223 potensi pariwisata dan 249 hotel serta penginapan pada 2025. Pada tahun yang sama, Garut memiliki 30 agenda pariwisata dan kebudayaan yang tercatat dalam basis data daerah.

Sebelumnya, kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi di Garut sepanjang 2024 tercatat mencapai 3,3 juta orang, melampaui target pemerintah daerah sebanyak tiga juta kunjungan. Taman Wisata Alam Gunung Papandayan menjadi salah satu lokasi dengan jumlah pengunjung tertinggi.

Badan Pusat Statistik juga mencatat 729 ribu perjalanan wisatawan nusantara menuju Garut pada Januari 2026. Pada periode yang sama, tingkat penghunian kamar hotel mencapai 31,60 persen dengan rata-rata lama menginap 1,06 malam.

Data tersebut menunjukkan adanya peluang untuk mengemas festival bersama destinasi lain agar pengunjung tinggal lebih lama. Paket perjalanan dapat menghubungkan Tepas Papandayan dengan wisata alam, budaya, kuliner, sentra kerajinan, dan produk UMKM di wilayah lain.

Penyelenggaraan Masih Perlu Dievaluasi

Pemerintah Kabupaten Garut mengakui penyelenggaraan tahun pertama masih menghadapi keterbatasan. Arena penerbangan layang-layang hanya memiliki luas sekitar dua hektare, sedangkan sebagian peserta mancanegara harus menginap di kawasan perkotaan karena fasilitas akomodasi di sekitar lokasi belum memadai.

Evaluasi akses jalan, transportasi, area parkir, keselamatan penerbangan layang-layang, kapasitas arena, akomodasi, dan pengelolaan sampah diperlukan apabila festival ditetapkan sebagai agenda tahunan.

Aten berharap penyelenggaraan berikutnya dapat dilakukan bergiliran di berbagai kawasan wisata Garut maupun daerah lain di Jawa Barat.

"Dengan demikian, manfaat ekonomi dan promosi daerah dapat dirasakan lebih merata," katanya.

Pelibatan masyarakat setempat juga dinilai perlu diperbesar. Kesenian tradisional, produk UMKM, kuliner khas, dan budaya lokal diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan pendamping, tetapi ditempatkan sebagai bagian utama dari pengalaman pengunjung.

"Festival ini diharapkan menjadi wadah pelestarian budaya, pengembangan 'sport tourism', dan wisata keluarga, sekaligus memperkuat citra Jawa Barat sebagai destinasi wisata kelas dunia," katanya.

Dengan penyelenggaraan yang konsisten dan pengelolaan lebih matang, Festival Layang-Layang Internasional berpeluang menjadi identitas baru pariwisata Garut sekaligus membuka pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal.