Iklan
Pasar Modal

BI Rate Ditahan, Bagaimana Imbasnya ke Pasar Modal?

BI Rate ditahan, Mandiri Sekuritas menilai kebijakan tersebut berdampak positif terhadap pasar saham dan kredit perbankan.

BI Rate Ditahan, Bagaimana Imbasnya ke Pasar Modal?
Suasana Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (19/1). Foto: Periskop.id/Maria Jessica Elvira Marus
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Kebijakan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan dinilai dapat memberikan sentimen positif bagi pasar saham karena mengurangi potensi pergeseran investasi dari saham ke instrumen berpendapatan tetap.

Head of Research PT Mandiri Sekuritas Norman mengatakan, tingkat suku bunga menjadi salah satu faktor makro yang perlu diperhatikan investor ketika melakukan analisis fundamental saham. Perubahan suku bunga dapat memengaruhi keputusan investor dalam menentukan instrumen investasi.

"Misalnya SBN. Orang biasanya ngapain ke saham kalau di sini sudah dapat 7,5-8 persen? Artinya ada potensinya di pergeseran investasi yang tadinya di saham dipindahkan ke produk-produk yang terkait tentang kepastian tadi, dari kupon, dari misalnya deposito," kata Norman dalam agenda Edukasi Wartawan Pasar Modal.

Menurut dia, kondisi berbeda terjadi ketika BI mempertahankan suku bunga. Kebijakan tersebut dinilai dapat mengurangi dorongan investor untuk memindahkan dana dari pasar saham ke instrumen dengan tingkat imbal hasil yang lebih pasti.

"Jadi dengan ditetapkan sore hari ini tidak naik BI Rate kita, dampaknya kepada perkembangan kita positif," ujarnya.

Norman menambahkan, suku bunga yang dipertahankan juga memberikan dampak terhadap sektor perbankan, terutama dari sisi biaya kredit.

"Yang kedua, juga berarti dari sisi kredit tidak ada kenaikannya. Jadi agak cukup lega ketika suku bunga ini dipertahankan. Karena kalau suku bunga kreditnya naik lagi, berat dari sisi bank," kata dia.

Suku Bunga dan Pasar Saham

Menurut Norman, ketika BI Rate tidak mengalami kenaikan, potensi tekanan terhadap pasar saham akibat perpindahan dana ke instrumen berbunga menjadi lebih terbatas.

"Siapa yang diuntungkan kalau misalnya BI Rate ditahan? Semua emiten di pasar saham, karena orang tidak jadi pindah," ujarnya.

Meski demikian, dia menyebut investor tetap perlu melihat kondisi makro dan prospek masing-masing sektor sebelum menentukan pilihan investasi.

"Yang sekarang yang menarik di mana? Tadi di sektor energi dan kita lagi melihatnya di sektor ekonomi dunia. Jadi makro dan globalnya ada di tiga miniatur dunia. Sehingga saham-saham energi," kata Norman.

Dia menilai dampak suku bunga terhadap saham tidak dapat dilepaskan dari faktor makro lainnya, seperti nilai tukar dan kondisi ekonomi global. Faktor-faktor tersebut menjadi bagian dari pendekatan top-down dalam analisis fundamental.

Dalam pendekatan tersebut, investor terlebih dahulu melihat kondisi makro sebelum mempersempit pilihan ke sektor dan emiten tertentu.

"Hal pertama yang diperhatikan kalau metodenya adalah top-down. Jadi kita melihat dari atas dulu. Yang dilihat itu apa? Tentu kita lihat makronya dulu, secara garis besarnya. Nilai tukar kita, potensi apakah, kalau tidak salah hari ini nanti ada pengumuman terkait BI Rate, kemudian perusahaan negara, ekonomi kita, terus kemudian juga di global," jelasnya.

Norman mengatakan, suku bunga merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi daya tarik saham dibandingkan surat utang. Ketika suku bunga meningkat, investor memiliki alternatif investasi dengan imbal hasil yang lebih menarik dan relatif pasti.

"Suku bunga nilainya dinaikkan, nah ada potensi perusahaan itu akan mulai sedikit di-switch, yang tadinya investasi di saham dipindahkan ke investasi obligasi atau surat utang," katanya.

Fundamental Tetap Jadi Dasar

Terlepas dari kondisi suku bunga, Norman mengingatkan investor agar tidak hanya mengejar pergerakan harga saham. Menurut dia, analisis fundamental tetap diperlukan untuk melihat kondisi perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.

"Jadi, beli-main-beli, jual-main-jual itu tidak boleh. Paling tidak kita tahu dasarnya dulu. Dia seperti apa, fundamentalnya seperti apa, baru kita nanti bisa memutuskan untuk berinvestasi atau tidak," ujarnya.

Dia mengatakan, investor dapat menggunakan sejumlah indikator sederhana untuk menyaring saham, antara lain laba bersih, liabilitas, earning per share (EPS), price earnings ratio (PER), dan price to book value (PBV).

"Lima yang pertama tentu laba bersih. Kita tidak memiliki saham yang tidak punya laba bersih. Yang kedua liabilitas. Tadi dari liabilitasnya, jangan sampai labanya sudah oke, laba bersihnya sekarang masih, tapi kalau kita lihat utangnya ternyata cukup besar. Kita lihat dari sisi liabilitasnya. Terus yang ketiga, kita lihat EPS-nya bertumbuh atau tidak. Yang keempat, price earnings ratio. Yang kelima PBV," kata Norman.

Dia menambahkan, investor juga perlu memperhatikan jangka waktu investasi. Strategi fundamental cenderung membutuhkan waktu lebih panjang karena kinerja perusahaan tidak selalu langsung tercermin pada harga saham.

"Yang namanya kita ngomongin analisis fundamental, ini selalu lagging. Saya harus mengingatkan teman-teman, selalu lagging," ujarnya.

Menurut Norman, laporan keuangan yang baik tidak serta-merta membuat harga saham langsung naik. Pergerakan harga juga dipengaruhi oleh faktor lain, termasuk arus dana investor asing, nilai tukar, serta permintaan dan penawaran di pasar.

"Jadi kalau investor asing lagi pada jualan, bisa jadi tertekan dan harganya turun. Misalnya mata uang rupiah terus melemah," katanya.

Dengan demikian, investor perlu mempertimbangkan kondisi makro, termasuk arah suku bunga, sebelum menentukan sektor yang berpotensi diuntungkan. Setelah itu, analisis dapat dilanjutkan dengan membandingkan fundamental dan valuasi antar-emiten dalam sektor yang sama.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai mandiri sekuritas (mansek), BI-Rate, dan suku bunga dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.