Periskop.id  - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mengaku belum melihat kebutuhan mendesak untuk menaikkan suku bunga secara signifikan dalam waktu dekat. Sikap itu diambil di tengah kenaikan BI-Rate yang cukup agresif dalam sebulan terakhir, dari 4,75% menjadi 5,75%.

Group Head Liquidity and Funding Management Group BRI Teguh Sulistyono mengatakan struktur pendanaan BRI masih cukup kuat untuk menahan tekanan kenaikan bunga acuan. Menurut dia, perseroan belum berada pada posisi yang mengharuskan penyesuaian bunga secara besar-besaran.

Advertisement

“Kalau kita lihat dari sisi suku bunga long term, kita untuk sampai dengan sekarang belum ada kebutuhan untuk menaikkan suku bunga secara signifikan,” kata Group Head Liquidity and Funding Management Group BRI Teguh Sulistyono dalam acara bincang bersama media di Jakarta, Kamis (18/6). 

Pernyataan tersebut menjadi penting karena kenaikan BI-Rate biasanya berpotensi mendorong bank menyesuaikan bunga simpanan maupun bunga kredit. Ketika suku bunga acuan naik, bank umumnya menghadapi biaya pendanaan yang lebih mahal karena sebagian nasabah mulai meminta imbal hasil lebih tinggi atas simpanan mereka.

Namun, BRI menilai tekanan tersebut masih bisa dikelola. Teguh mengatakan perseroan memiliki basis nasabah yang luas dan beragam. Sebagian nasabah memang sensitif terhadap perubahan bunga, tetapi sebagian lainnya masih mengikuti tingkat bunga pasar secara lebih wajar.

BRI juga mulai menerima permintaan suku bunga khusus atau special rate dari sebagian nasabah. Meski demikian, permintaan tersebut belum membuat perseroan harus menaikkan bunga secara signifikan pada seluruh struktur pendanaan.

Salah satu faktor yang membuat BRI lebih leluasa adalah komposisi dana murah yang masih kuat. Pada kuartal I 2026, biaya dana atau cost of fund BRI berada di level 2,3%. Angka ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3%.

Rasio dana murah atau current account saving account (CASA) BRI juga tetap tinggi, yakni mencapai 68,1% pada kuartal I 2026. CASA yang besar membuat bank memiliki sumber pendanaan yang relatif murah, terutama dari tabungan dan giro, sehingga tidak terlalu bergantung pada deposito berbiaya tinggi.

Transformasi Digital BRI
Teguh menjelaskan, transformasi bisnis BRI menjadi bank yang semakin digital dan transaksional ikut memperkuat struktur pendanaan. Semakin banyak transaksi nasabah masuk ke ekosistem digital BRI, semakin besar pula peluang bank menjaga dana murah tetap stabil.

Bagi BRI, mempertahankan biaya dana menjadi kunci untuk menjaga bunga kredit tetap kompetitif. Hal ini penting karena BRI memiliki eksposur besar pada segmen mikro, kecil, dan menengah. Jika biaya dana naik terlalu cepat, tekanan pada bunga pinjaman bisa ikut meningkat dan berpotensi memengaruhi kemampuan pelaku usaha mengakses kredit.

SEVP Transaction and Retail Funding BRI Trilaksito Singgih mengakui perubahan kondisi pasar dan likuiditas tetap dapat memicu penyesuaian di industri perbankan. Namun, menurut dia, fokus BRI adalah menjaga efisiensi biaya kredit agar bunga pinjaman kepada masyarakat tetap sehat.

“Apakah sudah mulai ada permintaan special rate? Iya. Tetapi most of all yang lebih penting yang harus dipahami oleh masyarakat adalah kita itu inginnya punya cost of credit yang efisien sehingga bisa memberi lending rate yang bagus ke masyarakat,” kata Singgih.

Singgih menambahkan, BRI telah menyiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi perubahan likuiditas ke depan. Menurut dia, likuiditas merupakan faktor utama dalam bisnis perbankan sehingga setiap perubahan pasar harus terus dipantau.

Konteks kenaikan bunga acuan memang tidak bisa diabaikan. Dalam sebulan terakhir, Bank Indonesia sudah menaikkan BI-Rate secara kumulatif sebesar 100 basis poin. Pada RDG 19 sampai 20 Mei 2026, BI menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps dari 4,75% menjadi 5,25%. Setelah itu, BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50% dalam RDG Mingguan pada 9 Juni 2026.

Kenaikan berlanjut pada RDG Bulanan 17 sampai 18 Juni 2026. Bank Indonesia kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%. Suku bunga deposit facility ikut naik menjadi 4,75%, sementara lending facility naik menjadi 6,50%.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan kenaikan suku bunga fasilitas BI dalam konferensi pers hasil RDG Juni 2026. "Suku bunga deposit facility juga naik 25 bps jadi 4,75% dan suku bunga lending facility naik sebesar 25 bps menjadi 6,5%," kata Perry Warjiyo saat konferensi pers hasil RDG BI Bulan Juni 2026 di Jakarta, Kamis.

Kenaikan BI-Rate, lanjutnya, dilakukan untuk memperkuat stabilitas rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam sasaran. Bank Indonesia juga mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada 17 Juni 2026 berada di level Rp17.730 per dolar AS, menguat 0,76% dibandingkan posisi akhir Mei 2026.

Meski suku bunga acuan naik, kata Perry, Bank Indonesia tetap menjaga arah kebijakan makroprudensial yang akomodatif agar kredit tetap mengalir ke sektor riil. BI mencatat kredit perbankan pada Mei 2026 tumbuh 11,51 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan April 2026 sebesar 9,98 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi.

Bank Indonesia juga memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap berada pada kisaran 8 sampai 12%. Pada Mei 2026, suku bunga kredit perbankan tercatat sebesar 8,72%, sedangkan suku bunga deposito satu bulan sebesar 4,26%.

Perry Warjiyo sebelumnya juga meminta perbankan meningkatkan efisiensi agar tidak langsung menaikkan bunga kredit. Permintaan itu sejalan dengan posisi BRI yang ingin menjaga biaya kredit tetap efisien.

“Kami meminta bank-bank juga meningkatkan efisiensi supaya jangan menaikkan suku bunga kredit. Efisiensi harus ditingkatkan supaya betul-betul mendorong kredit,” kata Perry.

Bagi masyarakat, sikap BRI ini berarti kenaikan BI-Rate belum tentu langsung membuat bunga kredit naik dalam waktu dekat. Namun, ruang penyesuaian tetap ada, terutama jika likuiditas mengetat, permintaan special rate meningkat, atau bank harus bersaing lebih ketat memperebutkan dana masyarakat.

Bagi nasabah simpanan, kenaikan BI-Rate biasanya membuka peluang bunga deposito bergerak naik secara bertahap. Namun, bagi debitur, terutama pelaku UMKM, yang paling penting adalah seberapa jauh bank mampu menjaga biaya dana dan risiko kredit agar bunga pinjaman tidak ikut melonjak.

Dengan struktur CASA yang tinggi, biaya dana yang turun, serta basis nasabah yang luas, BRI masih memiliki bantalan untuk menahan kenaikan bunga secara signifikan. Tantangannya, kondisi pasar keuangan tetap dinamis. Jika tekanan nilai tukar dan kebutuhan likuiditas perbankan meningkat, strategi bunga BRI bisa kembali disesuaikan.

Untuk saat ini, pesan utama BRI cukup jelas. Kenaikan BI-Rate memang memberi tekanan pada industri perbankan, tetapi perseroan belum melihat urgensi menaikkan bunga secara besar-besaran. Fokus BRI tetap menjaga pendanaan efisien agar bunga kredit, terutama untuk masyarakat dan pelaku usaha kecil, tetap kompetitif.