periskop.id - Dalam rapat kerja Komisi X DPR RI bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada Selasa (3/2), Anggota Komisi X Sofyan Tan menyampaikan kritik tajam terkait keterbatasan anggaran KIP Kuliah.
Ia menyoroti bahwa KIP ini merupakan “andalan” bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu untuk bisa melanjutkan pendidikan tinggi.
“Salah satu yang bisa membuat anak dari keluarga yang tidak mampu untuk bisa kuliah andalan mereka adalah beasiswa. Salah satu andalannya dari Kemdiktisaintek adalah di KIP kuliah,” ujarnya.
Namun, ia mengungkapkan kekhawatiran bahwa jumlah penerima KIP Kuliah justru menurun dari 200 ribu menjadi 170 ribu mahasiswa baru. Menurutnya, kondisi ini berbanding terbalik dengan target pemerintah untuk meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi.
“Kalau dengan pertambahan yang sama saja kita menargetkan naik, sedangkan situasi ekonomi kita sedang tidak baik-baik,” ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan dilema antara ambisi peningkatan APK dan keterbatasan fiskal negara.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa APK perguruan tinggi Indonesia pada 2024 masih berada di kisaran 31%, jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang sudah mencapai lebih dari 45%. Hal ini memperkuat urgensi peningkatan akses pendidikan tinggi.
Sofyan juga menyinggung keberhasilan Mendiktisaintek Brian Yuliarto meyakinkan Presiden Prabowo Subianto untuk bekerja sama dengan Inggris membangun 10 universitas baru.
“Berarti Pak Presiden tahu ini ada uang. 10 Universitas bekerja sama dengan UK itu bukan dana yang kecil,” katanya.
Namun, ia menekankan bahwa pembangunan universitas baru tidak serta-merta menjawab masalah akses bagi masyarakat miskin.
“Saya punya keyakinan Pak Menteri berhasil meyakinkan Pak Presiden. Dan saya yakin juga Pak Presiden juga melihat bahwa betapa pentingnya APK perguruan tinggi itu harus ditingkatkan,” tambahnya.
Dia kemudian membandingkan alokasi anggaran gizi anak sebesar Rp335 triliun dengan KIP Kuliah yang hanya Rp15 triliun.
“Dikasih dana yang cukup besar Rp335 triliun, masa untuk KIP kuliah yang hanya Rp15 triliun? Tambahlah Rp5 triliun saja, saya kira sudah cukup bisa membuat banyak orang tua tersenyum bahwa anaknya bisa jadi sarjana,” tegasnya.
Riset dari World Bank menunjukkan bahwa setiap tambahan 1% APK perguruan tinggi dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan demikian, investasi di bidang beasiswa bukan hanya soal pemerataan pendidikan, tetapi juga strategi pembangunan jangka panjang.
Kritik Sofyan Tan mencerminkan aspirasi masyarakat yang menginginkan keadilan dalam distribusi anggaran pendidikan. Ia menekankan bahwa beasiswa KIP Kuliah adalah instrumen vital untuk memutus rantai kemiskinan antar generasi. Tanpa dukungan finansial yang memadai, anak-anak dari keluarga miskin akan semakin sulit mengakses pendidikan tinggi.
Pada akhirnya, dorongan untuk menambah anggaran KIP Kuliah menjadi simbol perjuangan agar pendidikan tinggi tidak hanya menjadi hak eksklusif bagi kalangan mampu.
Tinggalkan Komentar
Komentar