periskop.id - Anggota Komisi X DPR RI Agung Widiyantoro mengkritik alokasi beasiswa pendidikan tinggi dan sosialisasi program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang dinilai belum maksimal. Ia menegaskan, meski kebijakan pemerintah bagus di atas kertas, manfaatnya belum sepenuhnya sampai ke masyarakat, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
“Kami berharap capaian kinerja tidak hanya dari sisi penyerapan anggaran, tetapi lebih kepada manfaat langsung yang dirasakan masyarakat,” ujar Agung dalam rapat kerja bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Selasa (3/2).
Menurutnya, program ini sudah berjalan di beberapa perguruan tinggi swasta, tetapi sosialisasinya masih minim. Akibatnya, masyarakat yang seharusnya bisa memanfaatkan kesempatan ini justru tidak tahu keberadaannya.
“Beberapa perguruan tinggi swasta sudah melakukan terobosan, mendapatkan RPL. Tapi kami baru tahu program ini ada setelah bertemu dengan mereka. Akan lebih baik kalau link and match, dan alokasinya setidaknya mirip dengan KIP,” katanya.
Kritik Agung juga menyasar alokasi beasiswa KIP, yang menurutnya belum merata. Ia menceritakan pengalaman menyalurkan kuotanya sendiri sebagai anggota DPR, dan bagaimana dampaknya sangat berarti bagi penerima. Namun, ia menilai jumlah alokasi per anggota masih terbatas, sehingga banyak potensi mahasiswa yang tersisihkan.
“Kalau bicara anggota DPR punya alokasi 700, saya malu, Pak. Saya paling bisa ngomong hampir seribu. Saya seluruhkan untuk anak-anak Indonesia yang punya tekad kuliah. Kalau lebih baik lagi, bulatkan seribu atau dua ribu atau lima ribu per anggota. Ini cara saya merayu Pak Mendikni,” ujar Agung.
Ia menegaskan, formula “merayu” Mendikti bukan sekadar strategi personal, tetapi bagian dari upaya DPR memastikan kebijakan pemerintah benar-benar menyentuh masyarakat, serta meningkatkan transparansi dan efektivitas program.
“Kalau program tidak tersosialisasi dengan baik, baik RPL maupun KIP, maka potensi masyarakat merasakan manfaatnya akan sangat terbatas. Ini yang perlu diperkuat ke depan,” pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar