Periskop.id - Pemerintah tahun ini dipastikan akan merevitalisasi sebanyak 1.600 sekolah di seluruh wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengatakan, jumlah sekolah yang direvitalisasi tahun ini meningkat tiga kali lipat dibanding tahun 2025.

"Semalam saya sudah bertemu dengan pak gubernur dan membicarakan (revitalisasi, red) ini. Beliau berharap bantuan revitalisasi untuk NTB bisa meningkat. Alhamdulillah, jumlahnya meningkat tiga kali lipat," ujarnya usai meninjau SMAK Kesuma di Mataram, Selasa (14/4). 

Ia menyebutkan di tahun 2025 bantuan revitalisasi untuk sekolah di NTB mencapai Rp452,99 miliar lebih untuk SD, SMP, SMA, dan SMK. "Tahun ini jumlahnya ditambahkan tiga kali lipat sampai Rp1 triliun lebih nilainya. Ini komitmen pemerintah pusat untuk membantu perkembangan pendidikan di NTB," kata Fajar.

Menurut dia, bantuan revitalisasi sekolah ini merupakan komitmen Presiden Prabowo Subianto, guna memastikan anak Indonesia dan NTB bisa mengikuti proses pembelajaran secara fokus dan lebih baik. Langkah ini diharap dapat meningkatkan prestasi peserta didik.

"Jadi, salah satu tujuan bantuan revitalisasi sekolah dari Presiden ini adalah untuk memastikan anak Indonesia dan NTB mengikuti proses pembelajaran bisa lebih baik," terangnya.

Fajar Riza menambahkan, untuk tahun ini pemerintah pusat mengalokasikan anggaran Rp11,4 triliun untuk merevitalisasi 11 ribu sekolah di seluruh Indonesia, termasuk di NTB.

"Presiden mengatakan akan ditambah lagi jumlahnya 60 ribu sehingga tahun ini akan ada 71 ribu sekolah yang direvitalisasi. Itu untuk memperbaiki sekolah rusak, terdampak bencana dan di daerah 3T (terdepan, tertinggal, dan terluar). Fokus kami untuk memperbaiki sekolah di wilayah 3T," ucapnya.

Selain merevitalisasi sekolah, Presiden juga akan menambah ruang kelas (rombongan belajar). Untuk setiap sekolah akan maksimum di tambah tiga ruangan, sehingga harapan nantinya seluruh ruang kelas yang ada bisa dilengkapi Papan Interaktif Digital (PID).

"Itu komitmen Presiden di tengah situasi global yang begitu berat dengan perang di Timur Tengah yang berkecamuk. Komitmen beliau terhadap dunia pendidikan tidak berkurang," pungkasnya.