Periskop.id - Klub sepak bola asal Italia utara, Como 1907, baru saja mencatatkan sejarah baru yang sangat mengesankan di kasta tertinggi sepak bola Italia. Di bawah arahan pelatih muda berbakat asal Spanyol, Cesc Fabregas, Como sukses mengamankan kemenangan mudah dengan skor telak 4 berbanding 1 saat menjamu Cremonese. 

Kemenangan ini bukan sekadar tambahan tiga poin biasa, melainkan pengunci posisi keempat di klasemen akhir Serie A dengan raihan 71 poin. Namun, hasil laga ini membawa nasib yang kontras bagi sang tamu karena Cremonese harus rela terdegradasi ke divisi bawah bersama Verona dan Pisa.

Advertisement

Pencapaian luar biasa ini menjadi puncak dari perjalanan kebangkitan klub yang hanya dalam waktu singkat mampu bertransformasi dari tim kecil menjadi penantang serius di tingkat benua. 

Como 1907 memastikan kelolosan pertama sepanjang sejarah klub ke kompetisi antarklub paling elite di dunia, yaitu UEFA Champions League atau UCL. Hal yang membuat dunia sepak bola terperangah adalah fakta bahwa Como meraih tiket Liga Champions tersebut hanya dua musim setelah mereka masih bermain di divisi kedua atau Serie B.

Fabregas mengungkapkan rasa bangga dan harunya atas komitmen para pemain dan manajemen. Ia menyampaikan kepada media DAZN pada Senin (25/5) bahwa pencapaian ini merupakan sebuah mahakarya dari seluruh skuad yang ada di dalam tim. 

Menurut Fabregas, kunci keberhasilan mereka terletak pada bagaimana para pemain percaya pada visi pelatih dan bagaimana manajemen menghormati seluruh rencana kerja yang diajukan. Para pemain bersedia mendengarkan instruksi dengan baik dan memiliki ambisi besar untuk terus menaikkan level permainan mereka pada saat momen krusial tiba.

Jejak Langkah Keluarga Hartono Membangun Fondasi dari Dasar

Keberhasilan luar biasa ini tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan dua pengusaha besar asal Indonesia, yaitu Budi dan Bambang Hartono. Kakak beradik yang merupakan pemilik Grup Djarum dan keluarga terkaya di Indonesia ini membeli Como pada 2019 melalui perusahaan mereka yang bernama SENT Entertainment. 

Saat itu, Como sedang berada di titik terendahnya, yakni berkompetisi di Serie D yang merupakan liga kasta keempat dalam sistem sepak bola Italia.

Keputusan keluarga Hartono untuk mengakuisisi Como 1907 pada saat itu benar-benar mengejutkan banyak pihak. Kabar ini sempat luput dari radar media besar karena dilakukan dengan sangat tenang dan tidak terduga. 

Nilai akuisisi klub ini pun terbilang sangat kecil untuk ukuran klub Eropa karena mereka membelinya seharga 850.000 euro atau setara dengan sekitar 13,5 miliar rupiah pada April 2019. Setelah resmi memiliki klub, keluarga Hartono langsung bergerak cepat dengan melunasi utang klub sebesar 150.000 euro guna menstabilkan kondisi keuangan tim.

Kini situasi telah berbalik seratus delapan puluh derajat. Como saat ini dikenal sebagai salah satu klub dengan sokongan finansial terkuat di sepak bola Italia. Daya tarik klub ini bahkan mampu mengundang legenda sepak bola dunia seperti Thierry Henry dan Cesc Fabregas untuk bergabung bukan hanya sebagai pelatih atau penasihat, tetapi juga sebagai pemegang saham klub. 

Perjalanan ini dimulai dengan penunjukan Michael Gandler sebagai orang yang menangani urusan bisnis dan aktivitas operasional. Gandler sendiri bukan orang baru di dunia sepak bola karena sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Manajer Pemasaran Inter Milan saat klub tersebut dimiliki oleh pengusaha Indonesia lainnya, Erick Thohir.

Gandler melihat adanya sejarah istimewa di balik keterpurukan Como saat itu. Di bawah kepemilikan keluarga Hartono, Como menunjukkan grafik peningkatan yang sangat konsisten. 

Mereka promosi ke Serie C pada tahun 2018, naik ke Serie B dua tahun kemudian, hingga akhirnya menembus Serie A. Puncaknya adalah keberhasilan mereka memastikan diri tampil di kompetisi elite Eropa, Liga Champions, untuk musim depan.

Sentuhan Taktik Modern dan Strategi Transfer Cerdas Fabregas

Di atas lapangan hijau, Fabregas menjadi sosok sentral yang menyulap permainan Como menjadi sangat menawan. Fabregas menerapkan strategi yang sangat berani dan berbeda dari pakem sepak bola Italia pada umumnya. 

Ketika sebagian besar tim di Italia masih sangat setia menggunakan formasi tiga bek tengah, Fabregas justru memainkan skema menyerang 4-2-3-1. Strategi ini membuat Como menjadi tim dengan persentase penguasaan bola terbanyak di liga, yang dikombinasikan dengan gaya menekan lawan yang sangat agresif atau sering disebut dengan istilah pressing berintensitas tinggi. 

Hasilnya sangat efektif karena Como tidak hanya enak ditonton dan sangat produktif dalam mencetak gol, tetapi juga memiliki salah satu pertahanan paling kokoh di liga.

Perjalanan Fabregas di Como dimulai dari bawah. Ia bergabung sebagai pemain pada Agustus 2022, kemudian memutuskan gantung sepatu atau pensiun satu tahun kemudian untuk mulai melatih tim U-19 atau tim primavera. 

Kariernya melonjak cepat ketika ia dipercaya menjadi manajer sementara tim utama pada November 2023, lalu bekerja sama dengan Osian Roberts sebagai asisten pelatih sambil menyelesaikan lisensi kepelatihannya. Setelah berhasil mengantar tim promosi, ia akhirnya resmi menjabat sebagai manajer permanen.

Sebagai pelatih yang cerdik, Fabregas tahu bahwa tim muda memerlukan penyeimbang yang berpengalaman. Ia mendatangkan pemain veteran yang memiliki mental juara dan kepemimpinan di ruang ganti. 

Musim lalu, nama-nama besar seperti penjaga gawang Pepe Reina dan bek tangguh Raphael Varane didatangkan untuk membantu stabilitas tim. Pada musim ini, kekuatan Como semakin bertambah dengan kehadiran Alvaro Morata dan Sergi Roberto yang keduanya sudah pernah merasakan manisnya trofi Liga Champions. 

Kehadiran mereka sangat berharga bukan hanya karena kemampuan teknis di lapangan, tetapi juga karena status mereka sebagai magnet bagi para penggemar.

Selain mengandalkan pemain senior, Como juga aktif mencari talenta muda dari klub-klub raksasa dunia. Contohnya adalah perekrutan Nico Paz, pemain muda berbakat dari Real Madrid yang didatangkan untuk memberikan kreativitas lebih di lini tengah. Ada pula Maximo Perrone, pemain masa depan Manchester City berusia 21 tahun yang didatangkan dengan status pinjaman. 

Strategi rekrutmen ini dipimpin oleh Barend Verkerk yang menggunakan pendekatan unik berbasis data dan algoritma cerdas, dibantu oleh enam pemandu bakat penuh waktu, analis taktik, hingga psikolog olahraga.

Visi Bisnis Model Disney dan Inovasi Mirwan Suwarso

Kesuksesan Como 1907 tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga merupakan buah dari tangan dingin Mirwan Suwarso yang menjabat sebagai Presiden Klub. Ia ditugaskan oleh Grup Djarum sejak November 2019 untuk mengelola dan membangkitkan klub ini. 

Uniknya, latar belakang Mirwan bukan berasal dari dunia olahraga murni, melainkan dari industri kreatif, media, dan hiburan. Hal inilah yang mendasari munculnya strategi bisnis yang sangat tidak konvensional dalam dunia sepak bola.

Mengutip siaran dalam kanal Youtube BBC pada Kamis (26/3), Mirwan memiliki gagasan besar untuk membangun brand Como 1907 menyerupai model bisnis Disney. Dalam pandangannya, Disney merupakan sebuah metafora di mana klub sepak bola menjadi pusat dari sebuah ekosistem besar. 

Ia membayangkan Danau Como sebagai sebuah taman hiburan raksasa di mana para pengunjung atau wisatawan bisa bersentuhan langsung dengan produk dan merek yang ditawarkan oleh klub. 

Mirwan menyadari bahwa Como adalah kota kecil dengan stadion yang hanya berkapasitas sekitar 12.000 penonton. Dengan keterbatasan itu, mustahil bagi Como untuk hanya mengandalkan pendapatan dari penjualan tiket atau hak siar televisi jika ingin bersaing dengan klub raksasa.

Oleh karena itu, Como mengembangkan berbagai lini pendapatan lain seperti bidang hospitality atau pelayanan tamu premium, perdagangan produk resmi atau merchandise, hingga ritel fashion.  Mereka bahkan memiliki divisi fashion dan ritel yang menjual gaya hidup mewah tepi danau atau yang disebut dengan Lago Lifestyle. 

Strategi ini terbukti berhasil menarik perhatian selebritas dunia. Nama-nama besar seperti Andrew Garfield, Benedict Cumberbatch, Michael Fassbender, Chris Pine, hingga Hugh Grant tercatat pernah hadir langsung menonton pertandingan di stadion Como dalam beberapa tahun terakhir.

Como tidak hanya menjual pertandingan sepak bola selama sembilan puluh menit saja, tetapi menjual sebuah pengalaman wisata kelas atas. Mereka bekerja sama dengan merek fashion ternama seperti Adidas, Rhude, dan Brioni untuk membangun citra Como sebagai merek gaya hidup yang elegan dan global. 

Strategi ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh klub FC Mallorca di Spanyol, namun Como melakukannya dengan dukungan finansial yang jauh lebih besar.

Strategi Kemandirian dan Laboratorium Bisnis Sepak Bola Masa Depan

Meskipun saat ini Como masih dalam fase investasi besar yang mencatatkan kerugian sekitar 105,1 juta euro sebelum pajak, Mirwan menegaskan bahwa klub ini dikelola dengan semangat perusahaan rintisan atau start-up

Artinya, uang yang dikeluarkan saat ini merupakan modal untuk membangun fondasi jangka panjang agar klub bisa mandiri dan mulai mencetak keuntungan dalam dua tahun ke depan. Como tidak ingin terus menerus bergantung pada suntikan dana dari pemilik atau sekadar mengandalkan hasil pertandingan.

Alih-alih memiliki banyak klub di berbagai negara seperti tren pemilik klub saat ini, sebagaimana dilaporkan oleh The Guardian pada Kamis (7/5), Como memilih jalur yang dinamakan multi-club servicing. Mereka membangun sistem teknologi dan analisis data pemain yang canggih di Como, lalu layanan atau perangkat lunak tersebut bisa dijual kepada klub atau organisasi olahraga lain di seluruh dunia. 

Mirwan menjelaskan bahwa Como ingin menjadi sebuah laboratorium bisnis olahraga di mana tim sepak bolanya merupakan bukti nyata bahwa teknologi yang mereka ciptakan benar-benar bekerja dengan baik.

Tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana menyeimbangkan antara bisnis kelas atas dengan kecintaan para penggemar lokal yang sudah setia sejak tim berada di kasta bawah. Untuk menjaga hubungan dengan pendukung inti, Como memastikan bahwa harga tiket untuk pemegang tiket musiman sejak di Serie C tetap terjangkau. Mereka ingin transformasi bisnis global ini tidak membuang akar sejarah lokal mereka.

Strategi identitas ini dirangkum dalam slogan Semm Cumasch yang memiliki arti Kami adalah Como. Meskipun dikelola oleh pengusaha asing dan didorong oleh teknologi serta gaya hidup global, Mirwan sangat sadar bahwa mereka harus menghargai karakter dan kebanggaan warga lokal. 

Transformasi besar yang dilakukan tetap menaruh identitas asli Como sebagai jiwa utama dari klub tersebut. Dengan lolosnya mereka ke Liga Champions, dunia kini akan melihat bagaimana sebuah tim kecil dari tepi danau mampu mengguncang panggung dunia melalui perpaduan taktik sepak bola modern, manajemen data yang cerdas, dan model bisnis hiburan yang sangat inovatif.