periskop.id - Pergerakan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terpantau cenderung terbatas pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026. Hingga berita ini ditulis, saham BBRI terkoreksi 0,65% ke level 3.050.

Pada awal sesi, saham BBRI dibuka di posisi 3.060 dan bergerak dalam kisaran 3.040 hingga 3.060 sepanjang perdagangan. Dalam periode sepekan terakhir, kinerja saham ini relatif stagnan tanpa perubahan berarti. Sementara itu, sejak awal tahun (year to date/YTD), BBRI masih mencatatkan penurunan sebesar 16,21%.

Advertisement

Di sisi fundamental, BRI tetap menunjukkan performa yang solid di tengah kondisi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian, terutama akibat faktor geopolitik. Hingga akhir kuartal I 2026, perseroan mampu mempertahankan pertumbuhan bisnis yang sehat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta pengelolaan risiko yang disiplin.

Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi, menyampaikan bahwa kondisi likuiditas perseroan berada dalam posisi yang kuat dan jauh melampaui batas minimum yang ditetapkan regulator.

“Hingga akhir Maret 2026, loan to deposit ratio (LDR) BRI berada di level 86,7%. Angka ini kami nilai masih ideal untuk menjalankan fungsi intermediasi, tidak terlalu ketat namun tetap cukup optimal untuk mendukung ekspansi kredit ke depan,” jelasnya.

Dari sisi pendanaan, BRI juga mencatat perbaikan yang cukup signifikan, terutama dalam efisiensi biaya dana dan komposisi dana murah. Cost of fund dari dana pihak ketiga berhasil ditekan dari 3,0% pada kuartal I 2025 menjadi 2,3% pada periode yang sama tahun ini, atau turun sekitar 65 basis poin.

Penurunan tersebut mencerminkan keberhasilan strategi perseroan dalam mengelola struktur pendanaan, khususnya melalui peningkatan porsi dana murah. Hal ini sejalan dengan kenaikan rasio CASA yang meningkat dari 65,8% menjadi 68,1% secara tahunan.

“Kami juga menjaga konsistensi dalam pengelolaan likuiditas. Ini penting bukan hanya untuk memastikan kecukupan dana, tetapi juga berdampak pada efisiensi biaya serta kualitas struktur pendanaan yang semakin baik,” tambahnya.

Dari sisi permodalan, BRI berada dalam kondisi yang sangat kuat. Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 22,90%, jauh di atas ketentuan minimum regulator untuk bank sistemik.

Dengan posisi modal tersebut, BRI memiliki ruang yang cukup luas untuk melakukan ekspansi bisnis secara hati-hati, sekaligus menyediakan bantalan yang memadai dalam mengantisipasi berbagai potensi risiko ke depan.

Struktur permodalan yang solid ini juga memberikan fleksibilitas bagi perseroan untuk terus mendorong pertumbuhan kredit, khususnya pada segmen UMKM dan pembiayaan produktif, tanpa mengabaikan prinsip prudential banking.

“Ke depan, kami akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan likuiditas dan kekuatan permodalan agar BRI dapat berperan optimal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan,” tutup Achmad Royadi.