Periskop.id - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengumumkan lulusan Sekolah Garuda akan memperoleh kuota khusus untuk melanjutkan studi di universitas-universitas terkemuka Cina, termasuk Universitas Tsinghua. Sebanyak 50 kursi telah dialokasikan oleh universitas papan atas Cina khusus untuk Indonesia.

Langkah itu diambil atas permintaan langsung Presiden Prabowo Subianto. Stella menuturkan, program ini merupakan bagian dari upaya pengembangan sumber daya manusia nasional melalui kerja sama bilateral dengan Cina di bidang sains dan teknologi.

"Presiden Prabowo meminta saya untuk mengatur agar kita mengirimkan mahasiswa terbaik Indonesia ke Cina. Dan kami sangat berterima kasih atas kolaborasi Cina. Universitas papan atas Cina telah memberikan Indonesia kuota sebanyak 50 orang," kata Stella saat membuka 2026 China-Indonesia Think Tank and Media Forum di Jakarta Selatan, Rabu (24/6).

Kuota tersebut dinilai Stella sebagai perlakuan istimewa. Ia menyebutkan, ini merupakan pertama kalinya Cina memberikan keistimewaan semacam itu kepada sebuah negara mana pun.

Lebih dari sekadar kuota, ia menegaskan program ini dirancang untuk mencetak ahli sains dan teknologi lokal yang kelak akan mengubah lanskap industri nasional.

Kerja sama Indonesia dan Cina di sektor pendidikan juga terbilang intensif. Stella memaparkan, saat ini tercatat 1.146 dokumen kerja sama aktif dengan mitra universitas Cina, mencakup bidang pendidikan tinggi hingga pusat bahasa dan budaya.

Sekolah Garuda sendiri merupakan program prioritas pemerintah di bawah Kemendiktisaintek. Program tersebut dirancang untuk terus memfasilitasi talenta terbaik dari berbagai penjuru Tanah Air, dari Sabang sampai Merauke.

Pada forum yang sama, Stella juga mendorong Indonesia untuk mengadopsi model pembangunan Cina yang bertumpu pada inovasi dan teknologi. Menurutnya, klaster inovasi Cina telah terbukti menjadi motor pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang signifikan.

Ia merinci, sektor inovasi dan teknologi Cina berkontribusi sebesar 13,4% terhadap total PDB nasional, meski hanya memanfaatkan 2,5% dari total lahan konstruksi negara tersebut.

"Kami ingin melakukan kolaborasi skala besar antara Indonesia dan Cina untuk mewujudkan hal ini," ujar Stella.