periskop.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja industri perbankan Indonesia tetap stabil hingga akhir 2025. Profil risiko perbankan terjaga, sementara likuiditas berada pada level yang memadai.

Dari sisi intermediasi, kredit perbankan tumbuh 7,74% secara tahunan (year on year/yoy) pada November 2025. Pertumbuhan ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 7,36%, sehingga total kredit mencapai Rp8.314,48 triliun.

"Pertumbuhan kredit menjelang akhir tahun menunjukkan kinerja intermediasi perbankan yang semakin solid," ucap Dian Ediana Rae Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK dalam konferensi pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Desember 2025, Jumat (9/1).

Dian menyatakan pertumbuhan kredit diperkirakan lebih tinggi dari target minimum yang ditetapkan. Sementara dana pihak ketiga (DPK) diperkirakan tumbuh double digit. Peningkatan kredit ini mencerminkan kemampuan perbankan menghadapi tantangan dalam penyaluran kredit, sekaligus respons positif sektor riil yang mulai memperbaiki permintaan.

Dari jenisnya, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi 17,98%. Diikuti kredit konsumsi 6,67% dan kredit modal kerja 2,04% yoy. Berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh 12%, sedangkan kredit UMKM masih menghadapi tantangan, meski mulai menunjukkan perbaikan.

"Kredit UMKM masih dalam tahap konstruksi, namun potensi pertumbuhannya cukup signifikan untuk mendukung ekonomi domestik," sambung Dian.

Adapun, pertumbuhan DPK juga menunjukkan tren positif, tercatat naik menjadi 12,03% year on year menjadi Rp9.899,07 triliun, dibandingkan bulan sebelumnya yang 11,48%. Penurunan suku bunga perbankan terus berlanjut, mendukung efisiensi pembiayaan dan mendorong pertumbuhan kredit.

Rata-rata tertimbang suku bunga kredit rupiah tercatat 8,97%, turun 26 basis point dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan paling signifikan terjadi pada kredit modal kerja, yang turun 44 basis point, mencerminkan penyesuaian bank dalam merespons kondisi pasar.

Di sisi penghimpunan dana, rata-rata tertimbang suku bunga DPK tercatat 2,77%, turun 29 basis point year on year, terutama pada suku bunga deposito. Likuiditas perbankan tetap memadai, dengan ALNCD 131,49%, ALDPK 29,67%, dan Liquidity Coverage Ratio 210,38%, jauh di atas ambang minimal masing-masing 50% dan 10%.

Kualitas kredit perbankan juga terjaga. Non-Performing Loan (NPL) bruto menurun menjadi 2,21%, NPL net membaik menjadi 0,86%, dan Loan at Risk turun ke 9,22%, menandakan kredit macet dan risiko tertahan pada level terkendali.

Ketahanan perbankan terlihat dari Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level tinggi yakni 26,05%, yang memberikan bantalan risiko kuat untuk menghadapi ketidakpastian global. Dian menegaskan, indikator ini menunjukkan industri perbankan Indonesia tetap tangguh dan resilient.

"Dengan kombinasi pertumbuhan kredit dan DPK yang solid, suku bunga kompetitif, likuiditas memadai, serta kualitas kredit terjaga, perbankan Indonesia berada pada posisi yang kuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan siap menghadapi tantangan ekonomi global sepanjang 2026," pungkas Dian.