periskop.id - Pasar modal Indonesia mencatat pertumbuhan investor yang signifikan sepanjang 2025. Total investor per akhir Desember 2025 mencapai 20,36 juta orang, naik 36,95% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menyebut kenaikan ini didorong oleh peran aktif investor ritel.

"Proporsi transaksi investor ritel meningkat dari 38% pada 2024 menjadi 50% pada 2025. Lonjakan jumlah investor baru ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong likuiditas pasar saham,” ujarnya dalam konferensi pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Desember 2025, Jumat (9/1).

Inarno melaporkan pada bulan Desember 2025, tercatat tambahan 694 ribu investor baru, yang turut meningkatkan rata-rata nilai transaksi harian bulanan menjadi Rp27,19 triliun, konsisten berada di atas Rp20 triliun sejak Agustus 2025.

Tak hanya itu, investor asing juga menunjukkan optimisme pada akhir tahun dengan membukukan net buy senilai Rp12,24 triliun, meski secara akumulasi tahun berjalan masih tercatat net sell Rp17,34 triliun.

"Hal ini menunjukkan kombinasi keyakinan investor domestik dan asing terhadap pasar saham Indonesia," terangnya.

Selain itu, pertumbuhan ini tercermin juga di industri reksadana dan pengelolaan investasi. Aset under management (AUM) naik menjadi Rp1.033,81 triliun, meningkat 23,46%, sementara nilai aktiva bersih (NAB) reksadana menembus Rp675,32 triliun, naik 35,26% dibanding tahun sebelumnya.

Tren positif ini diperkuat oleh net subscription reksadana senilai Rp138,69 triliun sepanjang 2025, yang menunjukkan minat investor untuk terus menanamkan dana di produk pasar modal Tanah Air.

Pertumbuhan jumlah investor juga mendorong likuiditas pasar saham dan obligasi, serta memperkuat kapitalisasi pasar domestik, yang mencapai rekor sepanjang tahun 2025. Aktivitas ini menjadi indikator penting bagi stabilitas dan kesehatan pasar modal nasional.

"Pertumbuhan jumlah investor menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia semakin kuat, sekaligus menjadi fondasi bagi penguatan pasar yang lebih likuid, stabil, dan menarik bagi investor baru maupun asing," pungkas Inarno.