periskop.id - Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami pelemahan pada perdagangan terakhir, meski manajemen menegaskan bahwa kinerja bank tetap solid. Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menjelaskan bahwa pergerakan saham BBCA sangat dipengaruhi oleh kepemilikan investor asing.

“Sekitar 70-80% saham BCA dimiliki investor asing. Jadi fluktuasi harga saham wajar karena mengikuti situasi global dan strategi mereka,” ujar Hendra dalam konferensi pers, dikutip Rabu (27/1).

Saham BBCA ditutup turun 1,96% ke level 7.500 pada perdagangan Selasa 28 Januari 2026. Dalam sepekan, BBCA turun 5,36% dan telah terkoreksi 6,54% sejak awal tahun atau secara year to date (YTD).

Manajemen BCA menegaskan, meski harga saham bergerak naik-turun, kinerja operasional bank tetap positif. Pertumbuhan kredit 7,7% sepanjang 2025 dan laba bersih Rp57,5 triliun, naik 4,9% yoy, menunjukkan fundamental bank tetap kuat.

Hendra menambahkan, manajemen fokus menjaga fundamental bank tetap sehat, termasuk kualitas kredit dan NPLyang tetap terkendali di kisaran 1,8-2%.

“Pergerakan saham memang normal karena 70-80% dimiliki investor asing yang free float,” jelas Hendra.

BCA optimistis target pertumbuhan kredit 8–10% di 2026 tetap bisa tercapai, didukung ekspansi di segmen ritel, korporasi, dan masuknya investasi asing yang bermitra dengan nasabah.

Manajemen menegaskan tetap fokus pada strategi jangka panjang, memperluas volume transaksi nasabah, dan menjaga stabilitas aset, sehingga prospek bank tetap positif meski harga saham bergerak volatil.

Dengan fundamental kuat dan prospek ekonomi yang stabil, manajemen BCA menilai penurunan saham BBCA saat ini lebih bersifat sementara, sementara pertumbuhan kredit dan laba tetap terjaga.