Periskop.id - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk lebih selektif dalam menyalurkan kredit pada tahun ini, dengan fokus pada sektor-sektor yang berkualitas, sehingga hanya menargetkan pertumbuhan pada angka satu digit yakni sebesar 7-9%.

Adapun per akhir 2025, penyaluran kredit BRI secara konsolidasi tumbuh sebesar 12,3% (year on year/yoy) menjadi Rp1.521 triliun dengan fokus penyaluran pada segmen UMKM.

“Kita memang sangat selektif memilih sektor-sektor yang berkualitas, yang tentunya bisa memberikan yield yang bagus tapi di sisi lain juga tidak membawa kualitas aset yang buruk bagi BRI,” kata Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam konferensi pers Paparan Kinerja Keuangan Triwulan IV 2025 secara daring di Jakarta, Kamis (26/2). 

Mengenai kualitas kredit, dia menyampaikan, perbaikan terus dilakukan perseroan secara konsisten, khususnya pada segmen mikro. Optimalisasi dilakukan mulai dari penyempurnaan model bisnis mikro hingga peningkatan aktivitas penagihan oleh para mantri, untuk memastikan kedisiplinan pembayaran.

Sebagai catatan, hingga akhir 2025, rasio non-performing loan (NPL) BRI masih berada di level 3,07%. Di sisi lain, loan at risk (LAR) menurun dari semula sebesar 10,7% pada akhir 2024 menjadi 9,6% pada akhir 2025.

Ke depan, menurut Hery, perseroan berencana menerapkan mekanisme pembayaran angsuran secara autodebet bagi nasabah segmen mikro yang memiliki rekening tabungan di BRI. Melalui skema ini, nasabah diharapkan menjaga kecukupan saldo, idealnya setara satu hingga dua kali angsuran, sehingga pembayaran dapat dilakukan secara otomatis dan tepat waktu.

Mekanisme serupa telah berjalan pada segmen konsumer, seperti KPR dan pembiayaan kendaraan. Dengan penerapan strategi tersebut di segmen mikro, diharapkan risiko keterlambatan pembayaran dapat ditekan. Khususnya pada kolektibilitas 2, sehingga kualitas portofolio kredit semakin terjaga.

Payroll Loan
Sementara itu, kinerja segmen commercial banking dan corporate banking yang telah menunjukkan performa solid, berperan strategis sebagai sumber lead bagi unit bisnis di cabang maupun segmen konsumer.

Dia mengatakan, pertumbuhan kredit tanpa agunan (KTA), khususnya yang berbasis payroll (payroll loan), berpotensi terus didorong melalui kemampuan commercial dan corporate banking, dalam menyediakan nasabah payroll yang berkualitas kepada segmen konsumer dan jaringan cabang.

Kemudian dari sisi pendanaan (funding), Hery menjelaskan, perseroan terus berfokus untuk memperbaiki struktur pendanaan dengan rasio dana murah (CASA) yang lebih besar. Adapun pada 2025, BRI berhasil meningkatkan rasio CASA hingga 70,6%.

Perolehan dana murah (giro dan tabungan) akan terus ditingkatkan melalui penguatan mesin pertumbuhan transaction banking. Antara lain super apps BRImo, transaksi melalui QRIS dan EDC, platform QLola, serta agen laku pandai atau Agen BRILink, yang mendorong produktivitas serta pertumbuhan volume dan frekuensi transaksi.

“Jadi kita memang ingin leading di sisi funding murah atau CASA ratio,” serunya. 

Secara keseluruhan, Hery menyampaikan, perseroan tetap optimistis melalui transformasi yang terus berjalan sebagaimana tercermin dalam inisiatif BRIVolution Reignite, maka pertumbuhan dana murah akan terus meningkat, biaya dana (cost of dund/CoF) semakin menurun, dan margin tetap terjaga secara stabil

Selain itu, perbaikan kualitas kredit di segmen mikro diharapkan terus menunjukkan tren positif. Hakl ini seiring penerapan proses underwriting yang lebih prudent serta akuisisi nasabah baru yang lebih selektif, sehingga menghasilkan portofolio dengan tingkat kolektibilitas lancar yang lebih tinggi.

“Harapannya tahun 2026 BRI akan lebih baik dibandingkan dengan tahun 2025,” pungkasnya.