periskop.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan Jumat 27 Februari 2026 ,menyesuaikan sentimen global dan dinamika pasar domestik. Prediksi ini muncul setelah rupiah pada Kamis (26/2) ditutup menguat 41 poin ke level Rp16.759 per dolar AS, meski sebelumnya sempat menyentuh penguatan 50 poin.

“Rupiah Jumat (27/2) diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.780 per US$, dengan volatilitas tinggi menjelang akhir pekan karena sentimen global masih dominan,” ulas Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, Jumat (27/2).

Sentimen eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah termasuk perkembangan diplomatik AS–Iran. Pasar menunggu hasil pertemuan pejabat AS, termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner, dengan pejabat Iran di Jenewa terkait program nuklir Teheran.

Selain itu, pengenaan tarif baru AS hingga 15% pasca-putusan Mahkamah Agung AS menambah ketidakpastian perdagangan global. Pasar juga memperhitungkan ekspektasi pemotongan suku bunga The Fed yang berkurang karena tekanan inflasi masih tinggi.

Secara domestik, pemerintah menegaskan bahwa mekanisme perjanjian dagang Indonesia-AS tetap berjalan. Menteri terkait menyatakan, diplomasi dan negosiasi akan terus dilakukan adaptif dengan menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas utama.

Pembedaan perlakuan antara negara yang telah menandatangani perjanjian dan yang belum dipandang sebagai langkah stabilisasi nilai tukar. Pasar menilai hal ini dapat menjaga daya saing ekspor Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Dengan kombinasi faktor eksternal dan domestik, analis menilai rupiah akan tetap mengalami fluktuasi terbatas.

“Sentimen global masih menjadi penggerak utama volatilitas rupiah pada perdagangan besok, sementara faktor domestik memberi sedikit bantalan terhadap pergerakan ekstrem,” imbuh Ibrahim.