periskop.id - Perusahaan Umum (Perum) Bulog resmi mengekspor 2.280 ton pasokan beras senilai Rp38 miliar ke Arab Saudi. Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut pengiriman logistik pangan ini bertujuan memenuhi kebutuhan konsumsi para jemaah haji Indonesia.
“Syukurlah Alhamdulillah di hari ini, hari Rabu tanggal 4 Maret, kita melaksanakan pelepasan ekspor komoditas beras Bifoods Nusantara untuk jemaah haji Indonesia,” ujarnya saat konferensi pers di Perum Bulog Kanwil Jakarta dan Banten, Jakarta Utara, Rabu (4/3).
Pelaksanaan ekspor logistik ini merupakan tindak lanjut atas keputusan rapat koordinasi terbatas pada 22 Februari lalu. Kementerian Koordinator Bidang Pangan memimpin langsung rapat penetapan kebijakan ketahanan pangan jemaah tersebut.
Pemerintah memberikan mandat resmi kepada Bulog untuk menyiapkan kebutuhan beras para calon haji secara komprehensif. Total jemaah asal Indonesia pada tahun ini menyentuh estimasi 215 ribu orang.
Beras kiriman lembaga pangan negara ini mengusung spesifikasi mutu premium tingkat tinggi. Tim memproduksi beras tersebut secara khusus demi menjaga kualitas asupan gizi jemaah selama beribadah.
“Untuk beras haji ini adalah beras yang kita berikan adalah beras yang terbaik dengan kualitas premium. Pecahannya 5%, bahkan sekitar 4%, dan kadar airnya di bawah 14%,” katanya pada kesempatan yang sama.
Standar ketat ini jauh melampaui spesifikasi beras premium reguler milik Bulog dengan tingkat pecahan 15%. Pemerintah mematok harga beras jemaah haji tersebut sangat terjangkau berkat sokongan program subsidi.
“Karena ini untuk jemaah kita, jadi ada subsidi dari pemerintah. Harganya Rp16.000 per kilogram untuk jemaah haji,” jelasnya saat memaparkan rincian harga komoditas pangan tersebut.
Program pengiriman ini turut menjadi momen promosi beras Nusantara ke pasar negara kaya minyak tersebut. Bulog mulai menjalin komunikasi intensif dengan dua importir besar dari Arab Saudi.
“Teman-teman dari Saudi berharap ini bisa berlanjut secara komersial untuk kebutuhan jemaah umrah maupun muqimin yang ada di Saudi Arabia. Potensinya cukup besar,” ungkapnya saat membahas peluang bisnis luar negeri.
Lembaga negara ini sangat mewaspadai risiko keamanan pengiriman akibat tingginya dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah. Mereka menjalin koordinasi ketat dengan instansi telik sandi dan kementerian terkait demi kelancaran distribusi logistik.
“Untuk proses lanjutan kita tetap mengikuti perkembangan dinamika di lapangan. Kami juga sudah bersurat ke BAIS TNI, BIN, dan Kementerian Luar Negeri terkait pemberangkatan beras haji ini,” ucapnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar