periskop.id - Standar kecantikan selalu berubah dan berbeda di setiap budaya maupun negara. Namun, di tengah perkembangan media sosial, muncul berbagai tren yang mendorong definisi kecantikan menjadi semakin sempit dan ekstrem.
Di China, sejumlah standar kecantikan viral menuntut tubuh perempuan agar terlihat sangat kurus, putih pucat, dan sempurna menurut ukuran tertentu. Tren ini menarik perhatian publik karena tidak hanya membentuk cara pandang terhadap tubuh, tetapi juga memunculkan perdebatan tentang batas antara estetika, tekanan sosial, dan kesehatan.
4 Tren Standar Kecantikan Ekstrem di China
1. Collarbone Aquarium
Di media sosial China, sempat viral anggapan kalau perempuan baru dianggap kurus dan cantik ketika tulang selangkanya atau klavikula cukup cekung sampai bisa diisi air bahkan diisi dengan ikan yang bisa berenang di sana. Standar ini jelas ekstrem karena menunjukkan betapa kurusnya tubuh yang dianggap ideal.
Tren ini viral lewat foto dan video tantangan di platform seperti Weibo dan Douyin. Namun, banyak dokter mengingatkan bahwa cekungan tulang selangka yang ekstrem sering kali menandakan berat badan yang terlalu rendah. Artinya, standar ini bukan hanya tidak realistis, tapi juga berpotensi berbahaya karena mendorong tubuh yang jauh dari kondisi sehat.
2. Chopstick Legs
Chopstick legs adalah istilah populer untuk menggambarkan kaki yang panjang, lurus, ramping, dan putih mirip sepasang sumpit. Dalam standar ini, kaki dianggap cantik jika terlihat kecil dari paha hingga mata kaki, tanpa otot yang menonjol.
Demi mengejar bentuk kaki seperti ini, sebagian perempuan melakukan olahraga tertentu, diet ketat, bahkan teknik pose khusus saat berfoto agar kaki terlihat lebih lurus dan jenjang. Padahal secara biologis, bentuk kaki sangat dipengaruhi oleh struktur tulang dan genetik, bukan hanya latihan fisik.
Tren ini banyak diperkuat oleh industri hiburan dan fashion yang sering menampilkan idol atau selebritas dengan tubuh super-slim sehingga menciptakan ilusi bahwa bentuk tubuh tersebut adalah standar yang normal.
3. A4 Waist
Tren A4 waist challenge pernah menjadi fenomena besar di China. Standarnya sederhana tapi ekstrim, jika pinggang seseorang bisa tertutup oleh kertas A4 yang lebarnya sekitar 21 cm, maka akan dianggap langsing. Sebaliknya, jika pinggang terlihat lebih lebar dari kertas tersebut, seseorang bisa dicap gendut.
Banyak perempuan mengunggah foto mereka berdiri sambil menempelkan kertas A4 di pinggang sebagai bukti keberhasilan. Tantangan ini menuai popularitas sekaligus kritik keras. Para ahli kesehatan menegaskan bahwa ukuran pinggang ideal sangat bergantung pada tinggi badan, struktur tulang, dan kondisi tubuh masing-masing orang tidak bisa disamaratakan dengan ukuran kertas.
A4 waist bukan hanya soal ukuran tubuh, tapi juga mencerminkan tekanan sosial yang kuat terhadap perempuan untuk selalu terlihat kecil, ramping, dan tidak memakan ruang.
4. Pale Face
Wajah pucat juga menjadi salah satu standar kecantikan yang diidam-idamkan. Kulit yang sangat cerah dan pucat dianggap memberikan kesan youthful, polos, dan innocent. Dalam persepsi ini, perempuan dengan wajah pucat dinilai lebih lembut, mudah didekati (approachable), dan bahkan lebih mudah diarahkan (controllable).
Standar ini berakar dari konstruksi budaya lama yang mengaitkan kulit cerah dengan status sosial tinggi karena menandakan seseorang tidak bekerja di bawah terik matahari. Hingga kini, pandangan tersebut masih hidup melalui iklan skincare, filter kamera, dan narasi kecantikan di media sosial.
Namun, banyak kritik muncul karena standar ini mendorong warna kulit yang tidak natural dan memperkuat tekanan agar perempuan tampil manis dan tidak terlalu menonjol.
Keempat standar kecantikan ini pada dasarnya bukan aturan resmi, melainkan tren viral yang lahir dari media sosial, industri hiburan, dan tekanan budaya. Meski terlihat estetik di layar, standar-standar ini sering kali mengabaikan kesehatan fisik dan mental perempuan.
Tinggalkan Komentar
Komentar