Periskop.id - PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) membukukan pendapatan Rp1,22 triliun pada semester I-2026, tumbuh 6,08% secara tahunan dibanding Rp1,15 triliun pada periode sama tahun sebelumnya. Kenaikan pendapatan itu justru tidak diikuti oleh perolehan laba perseroan yang menyusut.
Chief Finance Officer Sinar Terang Mandiri Holmes Siringoringo menyoroti pertumbuhan pendapatan tersebut sebagai sinyal kinerja yang solid di tengah dinamika industri pertambangan nasional. Ia menjelaskan, kenaikan itu didorong oleh lini usaha penambangan dan jasa konstruksi yang tumbuh signifikan sepanjang paruh pertama tahun ini.
"Ke depan, MINE akan terus memperkuat kolaborasi dengan mitra eksisting sekaligus membuka peluang kerja sama baru untuk menjaga pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan," ujar Holmes dalam keterangan tertulis, Kamis (30/7).
Di balik kenaikan pendapatan, beban pokok pendapatan MINE justru naik lebih tajam, yakni 9,97% secara tahunan dari Rp929,59 miliar menjadi Rp1,02 triliun. Akibatnya, laba bruto perseroan tergerus 10,08% menjadi Rp198,21 miliar, turun dari Rp220,44 miliar pada semester I-2025.
Beban usaha MINE turut melonjak 30,01% secara tahunan menjadi Rp62,59 miliar. Laba usaha perseroan pun anjlok 21,29% dari Rp172,30 miliar menjadi Rp135,61 miliar, sementara laba periode berjalan tergerus 14,34% menjadi Rp101,05 miliar dari sebelumnya Rp117,98 miliar.
Segmen penambangan masih menjadi tulang punggung pendapatan MINE dengan kontribusi Rp1,14 triliun atau 93,44% dari total pendapatan. Segmen jasa konstruksi menyumbang Rp73,41 miliar, dengan pertumbuhan masing-masing segmen mencapai 2,7% dan 93,94% secara tahunan.
Holmes menambahkan, pertumbuhan tersebut turut ditopang oleh sejumlah proyek yang sedang berjalan, termasuk kerja sama dengan PT Weda Bay Nickel, PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM), PT Hengjaya Mineralindo, dan pembangunan jalan untuk PT Erabaru Timur Lestari. Perseroan juga memperluas portofolio lewat kontrak baru, di antaranya perpanjangan Proyek Konstruksi Sampala sepanjang 3,5 kilometer dan status subkontraktor PT Horizon Jaya Perkasa untuk proyek Dry Stack Tailings Facility di Morowali milik PT Hengjaya Mineralindo.
MINE juga menambah hampir 100 unit armada hauling di PT SCM, sehingga total armada dump truck berkapasitas 45 ton yang dioperasikan perseroan di sana mencapai 200 unit. Penambahan ini menjadikan MINE salah satu kontraktor hauling terbesar di PT SCM.
Di sisi lain, Holmes menyoroti penurunan liabilitas perseroan sepanjang semester I-2026. Liabilitas MINE tercatat Rp946,07 miliar, turun 18,34% dari Rp1,15 triliun pada periode yang sama tahun lalu, sementara ekuitas naik 14,57% dari Rp851 miliar menjadi Rp975,11 miliar.
"Penurunan liabilitas dan peningkatan ekuitas ini mencerminkan komitmen Perseroan dalam menjaga struktur permodalan yang sehat. Kami terus mengelola pendanaan secara disiplin dan memperkuat fundamental keuangan agar MINE memiliki fleksibilitas yang lebih baik dalam mendukung keberlanjutan operasional serta menangkap peluang pertumbuhan di masa mendatang," tutup Holmes.
Tinggalkan Komentar
Komentar