periskop.id – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengingatkan seluruh elemen bangsa akan realitas kejam geopolitik dunia, di mana Indonesia tidak boleh menggantungkan nasib keamanannya pada negara lain. Ia menegaskan bahwa jika serangan militer terjadi, tidak akan ada pihak asing yang datang memberikan pertolongan.
“Kalau kita sungguh-sungguh mau nonblok, kalau kita sungguh-sungguh mau bersahabat sama semua, berarti kita sendiri. Kalau kita diancam, kalau kita diserang, tidak akan ada yang bantu kita. Percaya sama saya, nobody is going to help us,” tegas Prabowo saat memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Bogor, Senin (2/2).
Kepala Negara menjelaskan bahwa risiko tersebut merupakan konsekuensi logis dari pilihan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan nonblok. Dengan tidak tergabung dalam pakta pertahanan militer mana pun, Indonesia tidak memiliki payung perlindungan otomatis dari kekuatan adidaya.
Oleh karena itu, Prabowo meminta para pemimpin daerah dan elit politik untuk tidak bersikap lugu atau naif dalam memandang situasi global. Persahabatan antarnegara dinilai penting, namun bukan jaminan keamanan mutlak.
"Filosofi luar negeri saya adalah seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak, apalagi satu musuh," ujarnya menekankan pentingnya diplomasi damai.
Kendati demikian, Mantan Menteri Pertahanan ini membedakan antara harapan ideal dan kenyataan di lapangan. Ia menyebut dunia saat ini tidak berjalan berdasarkan romantisasi teori akademis, melainkan murni berdasarkan kalkulasi kekuatan (power relation).
Prabowo menyentil pandangan para pakar yang kerap meninabobokan publik dengan teori-teori indah. Baginya, hukum rimba dalam skala internasional masih berlaku hingga detik ini.
“Dengan segala hormat kepada para pakar yang pandai dan pintar, tapi dunia ini adalah keadaan nyata, bukan keadaan ideal. Yang berlaku di dunia ini sekarang adalah yang kuat akan berbuat apa yang mereka kehendaki, yang lemah akan menderita,” paparnya blak-blakan.
Menghadapi situasi tersebut, Presiden mengajak bangsa Indonesia untuk kembali ke akar filosofi para pendiri bangsa. Ajaran Presiden Soekarno dan Panglima Besar Jenderal Sudirman tentang kemandirian atau berdikari harus menjadi doktrin utama pertahanan.
“Dari awal Bung Karno mengatakan kita harus berdiri di atas kaki kita sendiri. Panglima Besar Sudirman mengajarkan kepada kita, kita harus percaya kepada kekuatan kita sendiri,” kata Prabowo.
Kemandirian ini, menurut Prabowo, tidak hanya sebatas kekuatan militer (alutsista), tetapi juga mencakup ketahanan pangan dan energi. Tanpa swasembada di sektor-sektor vital tersebut, Indonesia akan mudah didikte atau lumpuh saat krisis global melanda.
Peringatan ini disampaikan Prabowo di tengah kekhawatiran global akan potensi pecahnya konflik besar atau Perang Dunia III. Ia ingin memastikan Indonesia memiliki daya tahan (resilience) yang cukup untuk bertahan hidup tanpa harus mengemis bantuan asing yang belum tentu datang.
Tinggalkan Komentar
Komentar