periskop.id - PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) pengembang kawasan industri terpadu modern Kota Deltamas, mengumumkan laporan keuangan audit untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2025 dengan kinerja solid di tengah dinamika sektor properti dan industri nasional. Perseroan berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar Rp1,3 triliun.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Tondy Suwanto menyampaikan 88% pendapatan usaha Perseroan berasal dari segmen industri sebagai kontributor utama, sementara sisanya berasal dari segmen hunian, komersial, serta rental dan hotel.

"Sebesar 88% pendapatan usaha Perseroan berasal dari segmen industri. Selain itu turut berkontribusi pula dari segmen hunian, segmen komersial, serta segmen rental dan hotel,” ujar Tondy dalam keterangan resmi Selasa (3/3).

Tondy juga menjelaskan sepanjang 2025 Perseroan berhasil mencatatkan penjualan lahan industri kepada pelanggan dari sektor data center, FMCG, industri pangan dan turunannya, hingga sektor lainnya, mencerminkan tingginya minat investasi di Kota Deltamas.

Permintaan lahan dari berbagai sektor strategis menunjukkan daya tarik kawasan yang semakin kuat sebagai pusat aktivitas manufaktur, logistik, dan infrastruktur digital di timur Jakarta. Dari sisi profitabilitas, Perseroan mencatat laba usaha sebesar Rp624 miliar dengan margin laba usaha mencapai 48%, mencerminkan efisiensi operasional yang terjaga.

Sementara itu, laba bersih tercatat sebesar Rp800 miliar, menunjukkan kemampuan Perseroan dalam mengelola pertumbuhan pendapatan secara sehat dan berkelanjutan. Secara fundamental, struktur keuangan Perseroan juga sangat solid. Hingga 31 Desember 2025, total aset tercatat sebesar Rp7,12 triliun dengan liabilitas sebesar Rp509 miliar dan total ekuitas mencapai Rp6,61 triliun.

“Perseroan tidak memiliki utang berbunga, memberikan fleksibilitas yang kuat untuk mendukung ekspansi dan pengembangan kawasan ke depan,” beber Tondy.

Dengan fundamental yang kokoh tersebut, Perseroan terus mempercepat pengembangan Kota Deltamas sebagai kawasan terpadu modern yang mengintegrasikan industri, komersial, dan hunian dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

"Strategi ini memperkuat daya saing kawasan sekaligus menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi investor, tenant, dan pemangku kepentingan," lanjut Tondy.

Ke depan, Perseroan optimistis tren permintaan lahan industri akan tetap positif, terutama dari sektor pusat data, manufaktur bernilai tambah, logistik, dan industri berbasis konsumsi domestik.

"Dengan land bank yang memadai dan struktur keuangan yang sehat, DMAS berada pada posisi strategis untuk melanjutkan pertumbuhan dan memperkuat posisinya sebagai salah satu pengembang kawasan industri terdepan di Indonesia," tutup Tondy