Periskop.id - Pasar modal Indonesia menunjukkan dinamika yang luar biasa sepanjang tahun 2025. Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi saksi bagi puluhan perusahaan dari berbagai sektor yang memutuskan untuk melantai dan menawarkan saham perdana mereka kepada publik melalui skema Initial Public Offering (IPO). 

Langkah ini tidak hanya menjadi tonggak sejarah bagi masing-masing korporasi, tetapi juga memperkuat likuiditas dan keragaman pilihan investasi bagi masyarakat di tanah air.

Artikel ini akan mengulas secara runut perjalanan emiten-emiten baru yang masuk ke pasar modal, mulai dari pembukaan tahun hingga penutupan Desember 2025, lengkap dengan nilai penghimpunan dana serta rencana strategis penggunaan modal tersebut.

Januari

Bulan Januari 2025 dibuka dengan optimisme tinggi melalui pencatatan serentak beberapa perusahaan. Pada tanggal 8 Januari, tiga perusahaan resmi melantai di bursa. 

PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) mengawali dengan melepas 412,09 juta lembar saham atau 12,03% modal di harga Rp100 per saham, mengantongi dana Rp41,20 miliar.

Di hari yang sama, PT Kentanix Supra International Tbk (KSIX) menyusul dengan melepas 15% modal sebanyak 320,67 juta saham seharga Rp452 per saham, meraih dana Rp144,94 miliar. 

Namun, sorotan utama tertuju pada PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) yang berhasil menghimpun dana jumbo senilai Rp624 miliar dengan menawarkan 543,01 juta saham di harga Rp1.150 per lembar.

Keesokan harinya, 9 Januari, sektor konsumsi dan investasi unjuk gigi. PT Raja Roti Cemerlang Tbk (BRRC) meraih Rp61,21 miliar dengan melepas 30,01% saham di harga Rp210. Sementara PT Hero Global Investment Tbk (HGII) melepas 20% saham di harga Rp260, sehingga mengamankan dana segar Rp260 miliar.

Menutup pertengahan Januari pada tanggal 13, tiga emiten lain bergabung. PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) mencatatkan nilai fantastis sebesar Rp2,3 triliun dengan harga saham Rp4.060. 

Kemudian PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT) meraup Rp59,5 miliar, dan PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG) mendapatkan Rp202,94 miliar untuk memperkuat modal kerja mereka.

Maret

Memasuki bulan Maret, tepatnya tanggal 10, BEI menyambut PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) dan PT Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI). 

MINE berhasil menghimpun Rp132,3 miliar, sedangkan KAQI memperoleh Rp53,1 miliar melalui penawaran saham di harga yang sangat terjangkau yakni Rp25 per saham.

Momen ikonik terjadi pada 25 Maret ketika PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) resmi melantai. Produsen kembang gula yang sangat dikenal masyarakat ini meraih dana total Rp2,04 triliun. Dana tersebut dialokasikan secara strategis untuk pembangunan pabrik baru di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, sebagai langkah ekspansi bisnis ke pasar domestik maupun internasional.

April

Bulan April ditandai dengan IPO dari sektor gaya hidup dan kesehatan. Pada 14 April, PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) resmi menjadi perusahaan publik dengan menghimpun dana Rp353,44 miliar. 

Perusahaan kopi ini memiliki rencana ambisius dengan mengalokasikan 80% dana untuk pembukaan 140 gerai baru di Indonesia serta diversifikasi bisnis ke sektor makanan melalui outlet donat.

Pada 15 April, PT Medela Potentia Tbk (MDLA), pemain lama di bidang distribusi kesehatan, melepas 25% sahamnya dan meraih Rp658 miliar. Sebagian besar dana ini disalurkan ke anak usahanya, PT Anugrah Argon Medica (AAM), untuk memperkuat jaringan distribusi obat-obatan di Asia Tenggara.

Mei

PT Cipta Sarana Medika Tbk (DKHH) mewarnai bulan Mei dengan mencatatkan sahamnya pada tanggal 8. Dari perolehan dana sebesar Rp69,9 miliar, perseroan berkomitmen melakukan renovasi dan pembangunan gedung baru di Rumah Sakit DKH Cibadak, Sukabumi. 

Langkah ini mencakup pengadaan alat medis canggih seperti CT-Scan untuk meningkatkan standar layanan kesehatan daerah.

Juli

Juli menjadi salah satu bulan tersibuk bagi lantai bursa. Pada 8 Juli, PT Pancaran Samudera Transport Tbk (PSAT) meraih Rp200,1 miliar untuk penguatan armada kapal bulk carrier

Bersamaan dengan itu, PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) menghimpun Rp100,69 miliar yang difokuskan pada pembelian mesin baru untuk kemasan produk kimia dan farmasi.

Tanggal 9 Juli mencatatkan dua nama besar, yakni PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang meraup dana jumbo Rp2,37 triliun, serta PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) yang mencatatkan saham di Papan Pengembangan dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp1,47 triliun.

Puncak keramaian terjadi pada 10 Juli dengan empat perusahaan melantai sekaligus, di antaranya:

  • PT Diastika Biotekindo Tbk (CHEK): Meraih Rp104,32 miliar untuk modal kerja operasional.
  • PT Trimitra Trans Persada Tbk (BLOG): Menghimpun Rp140,81 miliar untuk membangun gudang pendingin (cold storage) di Tangerang, Pontianak, dan Makassar.
  • PT Merry Riana Edukasi Tbk (MERI): Meraih Rp30,09 miliar untuk ekspansi pusat pembelajaran dan program pengembangan diri.
  • PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk (PMUI): Menghimpun Rp208,8 miliar untuk persediaan dan pinjaman kepada entitas anak.

September

Salah satu IPO terbesar tahun 2025 terjadi pada 23 September oleh PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS). Dengan harga penawaran Rp2.880 per saham, perusahaan ini berhasil menghimpun dana fantastis sebesar Rp4,66 triliun. 

EMAS mengelola Proyek Emas Pani di Gorontalo yang merupakan salah satu tambang emas primer terbesar di Indonesia dengan potensi sumber daya mencapai 7 juta ounces.

Produksi puncak ditargetkan mencapai 500 ribu ounces emas per tahun mulai kuartal pertama 2026.

November

Menjelang akhir tahun, pada 6 November, PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) meramaikan sektor logistik laut. Dengan harga penawaran Rp330 per saham, perseroan melepas 25% kepemilikannya. 

Dana yang terkumpul direncanakan sepenuhnya untuk belanja modal berupa pembangunan tiga kapal baru jenis LCT berkapasitas 2.500 DWT demi mendukung angkutan alat berat dan kontainer dalam negeri.

Desember

Desember menjadi penutup manis bagi aktivitas IPO 2025. Pada 8 Desember, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) yang bergerak di bidang pengolahan sarang burung walet meraih dana Rp105 miliar melalui pelepasan 20% sahamnya.

Akhirnya, pada 17 Desember, PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) resmi mencatatkan saham perdana. Superbank menghimpun dana sebesar Rp2,79 triliun. Sebesar 70% dari dana tersebut dialokasikan untuk memperkuat penyaluran kredit kepada segmen underbanked dan UMKM. 

Sisanya, sekitar 30%, digunakan untuk investasi teknologi masa depan seperti Artificial Intelligence (AI), data analytics, dan penguatan sistem cybersecurity untuk mendukung perbankan digital.