periskop.id - Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat lima sektor saham yang menyalurkan dividen tertinggi sepanjang 2025. Data per 24 Desember 2025 menunjukkan sektor perbankan memimpin sebagai pemberi dividen terbesar dibandingkan sektor lainnya.
“Pada 2025, sektor finansial atau perbankan mendistribusikan dividen sebesar Rp 80,3 triliun. Ini menjadi sektor dengan pembagian dividen tertinggi,” ungkap Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat dalam konferensi pers Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia tahun 2025, Selasa (30/12).
Sepanjang 2025 sektor perbankan menyalurkan dividen sebesar Rp80,34 triliun, menempati posisi teratas. Posisi kedua ditempati sektor energi, khususnya produksi batu bara, dengan dividen Rp27 triliun. Sementara, sektor infrastruktur dan layanan telekomunikasi terintegrasi menyumbang Rp20,18 triliun.
Diikuti oleh perusahaan industri dan holding multisektor Rp10,48 triliun, dan sektor infrastruktur serta layanan telekomunikasi nirkabel Rp10,46 triliun. Data ini sekaligus mencerminkan diversifikasi aliran pendapatan yang kuat, mulai dari sektor keuangan, energi, hingga infrastruktur dan telekomunikasi.
“Kontribusi dari lima sektor utama ini menunjukkan bahwa berbagai sektor strategis di pasar modal Indonesia memberikan manfaat nyata bagi investor,” tambah Samsul.
Capaian KSEI Sepanjang 2025
Selain distribusi dividen, sepanjang 2025 KSEI mencatat total aksi atau tindakan korporasi senilai Rp491 triliun, naik signifikan dari Rp469 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari 7.610 tindakan korporasi yang berlangsung selama 2025, sebagian besar berupa pendistribusian bunga obligasi, bagi hasil, pelunasan pokok, pembagian dividen, hingga berbagai tindakan korporasi lain yang dikelola untuk memastikan kelancaran aliran dana ke investor.
“Setiap tindakan korporasi yang kami distribusikan, baik berupa dividen maupun bunga obligasi, bertujuan untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus mendukung likuiditas pasar modal,” jelas Samsul.
Pertumbuhan Investor
Pertumbuhan investor menjadi indikator penting lainnya. Sepanjang tahun ini, jumlah Single Investor Identification (SID) meningkat sebesar 36%, dari 14,8 juta menjadi 20,2 juta investor.
Menurut Samsul, pencapaian ini merupakan hasil nyata dari upaya KSEI dalam memasyarakatkan manfaat pasar modal, termasuk melalui edukasi dan penyebarluasan informasi tentang fungsi dan keuntungan berinvestasi di pasar modal.
“Kami melihat peningkatan ini sebagai cerminan keberhasilan memasyarakatkan pasar modal. Semakin banyak masyarakat yang memahami manfaat investasi, semakin kuat pula fondasi pasar modal nasional,” beber dia.
Seluruh capaian positif ini memperkuat posisi KSEI sebagai pusat infrastruktur pasar modal Indonesia. KSEI tidak hanya memastikan transaksi dan distribusi dividen berjalan aman dan efisien, tetapi juga mendorong likuiditas dan stabilitas pasar, serta meningkatkan kepercayaan investor di seluruh sektor strategis.
"Tren positif ini menjadi modal penting bagi pasar modal Indonesia menyambut tahun 2026, seiring upaya pemerintah dan regulator memperluas partisipasi masyarakat dalam investasi, sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi nasional melalui pasar modal yang sehat dan inklusif," pungkas Samsul.
Tinggalkan Komentar
Komentar