periskop.id – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengumumkan rencana penerbitan surat utang atau obligasi senilai Rp612,75 miliar guna melunasi pinjaman dan memperkuat arus kas operasional perusahaan.

Mengutip keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen menegaskan langkah ini bagian dari strategi keuangan perseroan.

"Dengan ini Perseroan/Emiten menyampaikan bukti iklan tentang Informasi Tambahan Ringkas Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap IV Tahun 2026 sebesar Rp612,75 miliar," tulis manajemen BUMI dalam keterangannya, Selasa (27/1).

Corporate Secretary BUMI, Irana Candra Mala, menjelaskan alokasi dana hasil penerbitan surat utang tersebut. Prioritas utama adalah pembayaran utang.

Dana akan dipakai untuk melunasi pokok pinjaman sebesar US$20,455 juta. Jika dikonversi, nilainya setara Rp347,3 miliar.

Pembayaran ini ditujukan kepada kreditur Indies Special Opportunities III Ltd dan Indies Special Opportunities IV Ltd. Pelunasan dilakukan secara dipercepat setelah dikurangi biaya emisi.

Selain membayar utang, sisa dana obligasi bakal dialokasikan untuk modal kerja. Hal ini mencakup pembiayaan operasional harian perusahaan.

Irana merinci penggunaan modal kerja tersebut untuk gaji dan tunjangan karyawan. Biaya jasa profesional seperti konsultan pajak, audit, hingga IT juga masuk dalam pos ini.

Tak hanya itu, dana segar juga disiapkan untuk membayar kewajiban pajak. Termasuk di dalamnya biaya keuangan lain seperti bunga dan selisih kurs.

Penerbitan ini merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) I BUMI. Program ini menargetkan total penghimpunan dana mencapai Rp5 triliun.

Manajemen telah menetapkan jadwal masa penawaran obligasi tahap IV ini. Investor bisa mulai memesan pada 9 hingga 13 Februari 2026 mendatang.

Perseroan berharap aksi korporasi ini mendapat sambutan hangat pasar. Optimisme ini didasari rekam jejak obligasi BUMI sebelumnya yang cukup diminati investor.

Langkah ini dinilai strategis untuk menyehatkan neraca keuangan. BUMI ingin memastikan struktur modal tetap kuat demi menjaga kelangsungan bisnis jangka panjang.